Selamat datang!!

Selamat Datang digubuk Rahmeen yang sederhana ini, Selamat membaca ^_^

Pilih Kategori

Senin, 21 September 2015

Melis : Sisi gelap

 

“ dan hal yang paling aku tak sukai terjadi lagi.”-Aulia Rahmeen

 

Sudah berpuluh-puluh kali aku mencoba menelpon Melis, dan berpuluh-puluh kali juga dia tidak mengangkatnya. Hampir seharian tak ada kabar. Sejak tadi pagi sampai sekarang, dimana jam sudah menunjukkan pukul 17.04 wib. Lost contact.

Ada apa gerangan? Jangan membuat aku bingung.

Teringat tadi malam, ketika aku terbangun pukul 3 dinihari. Seperti biasa, ku mencoba meraih hape-ku lalu mengucapkan selamat pagi ke kamu, hei pujaan hati-ku.

Namun, aku tak menemukan kontak-mu. Hilang, seperti ditiup mimpi. Atau benar, aku sedang berada di alam mimpi?

Ku pijimkan mata-ku, mencoba mengingat-ingat kejadian tadi malam.

Semua ingatan sudah ku jamah, anehnya tak kutemui memori yang mendukung sikapmu hari ini. Aku tak ada melakukan kesalahan. Bertengkar pun, gak mungkin, tak pernah sekalipun kita bertengkar.

Hari yang aneh, ceritai ini butuh jawaban.

***

 

“selamat, kamu berhasil membuat hidup-ku terasa hampa dengan pikiran tak jelas hari ini, 21 september 2015”- Aulia Rahmeen

 

Selepas sholat magrib, aku melihat sebuah penggilan tak terjawab di layar hape-ku. Terpampang jelas, sebuah nama, Nyonya, itu nama samaran-mu dihape-ku. Ku tepuk pipi kiri-ku, seakan masih belum percaya itu panggilan dari kamu. Ku tepuk lagi pipi sebelah kanan, untuk apa? Biar imbang aja.

aarrrrrggghhh,,, kenapa aku bisa tak mendengarnya.

Refleks, ku telpon balik dan dia langsung mengangkatnya. Suara kamu akhirnya terdengar di lobang telinga-ku. Suara yang sejak pagi ku tunggu-tunggu untuk memberikan penjelasan atas kebingungan yang kau ciptakan.

Ada apa gerangan Mel?

kamu menjawab pertanyaan-ku dengan suara aneh. Kamu berbicara dengan tidak jelas. Sesekali kamu juga tersedu-sedu.

Eh, kamu lagi menangis Mel.

Kenapa?

Kamu mulai bercerita, hatimu sedang bimbang, seperti terjadi konflik yang maha dahsyat dari dalam lubuk hati paling dalam. Sebuah perasaan tidak enak. Dan menangis adalah cara-mu untuk melampiaskan perasaan itu.

Penyebabnya apa?

Kamu bilang, tak tau kenapa sepanjang hari perasaan kamu sedang bergejolak tanpa ada penyebeabnya. Lebih tepatnya kamu tak tau akar penyebabnya. Hal itu membuat aku bingung, apalagi kamu juga makin bingung ketika terus ke cerca pertanyaan itu.

Coba kamu cerita sedikit demi sedikit dulu, bisa?

Kamu mulai membuka, tapi dengan sedikit hati-hati.

Aku gak mau buat kamu kecewa, aku gak mau kamu menghilang setelah tau ini semua

Iya, terus, lanjutkan cerita-mu?

aku masih memikirkan mantan-ku. Aku masih mengingat mantan-ku. Maaf.

Kamu mengucapkan itu sambil mengakhirinya dengan sebuah tangisan yang semakin keras.

Aku bingung, apakah cewek selalu begitu?

Kata maaf sudah hampir ratusan kali keluar dari mulut-mu. Sepertinya kamu menyadari kalau itu salah.

Tapi aku menyadari kalau itu lumrah. Aku mencoba meringankan beban pikiran-mu. Aku tak mungkin bilang kamu salah ketika kamu sedang dalam posisi rumit seperti itu. Meski sebenarnya aku tak suka dengan ini semua.

Ku bilang, wajar kamu masih ingat mantan-mu. Kamu sudah pacaran bertahun-tahun. Pasti banyak memori yang udah kamu lewati. Sedangkan kamu dan aku hanya dua bulan. Aku sadar, tak mungkin bisa menghapus memori yang terbangun selama bertahun-tahun dengan cepat, apalagi kita baru dua bulan. Semua butuh proses, mari kita jalani berdua proses itu. Jangan sendirian. Kamu harus selalu cerita, dan jangan pernah dipendam. Itulah fungsi hadirnya diri-ku untuk-mu.

Tapi aku jahat samu kamu, aku udah mengecawakan orang seperti-mu.seharian aku belum makan, belum mandi, hanya mengurung diri dikamar, karna aku tau yang ku lakukan ini salah.

Aku tak bisa mengeluarkan kekecewaan-ku, aku hanya bisa membantu untuk tak menambah beban pikiran-mu.

Mel, kamu gak usah memikirkan apa aku akan kecewa dengan itu, aku tak pernah kecewa. Aku selalu bahagia selama bersama-mu. Kamu gak usah bilang maaf terus, kamu tak punya salah ke aku, walaupun kamu punya salah, sudah aku maafin sebelum kamu minta maaf.

Aku tak tau apakah itu jawaban yang tetap yang harus ku ucapkan ke kamu. Semoga tak menambah beban pikiran-mu.

***

 

”aku masih punya keyakinan dengan-mu, Mel. Meski kecil. Sangat kecil.” Aulia Rahmeen

Sejak awal aku pacaran dengan-mu, perasaan ragu juga menghampiri diri-ku. Aku sadar, kamu baru putus dengan pacar-mu, dan aku tiba-tiba hadir untuk menggantikannya. Sulit. Dan terlalu sulit.

Aku seorang lelaki yang tak menyukai wanita yang masih mengingat mantan-nya, apalagi masih berhubungan dengan mantan-nya. Itu pernah terjadi pada cerita cinta-ku sebelumnya, sebelum dengan-mu. Setelah bertahun-tahun aku memperjuangkannya. Dan, aku mundur untuk mendapatkannya. Sayang sekali ya. Itu semua karena aku tak suka dia yang masih berhubungan dengan mantan-nya.

Sekarang? Tak mungkin aku mengulangi kesalahan yang sama.

Walaupun pengalaman sudah mengajarkan-ku banyak hal, aku belum menunup kemingkanan dengan-mu, Mel. Harapan itu selalu ada selama aku yakin, meski hanya kecil, sangat kecil sekali.

Dan, kamu tau mel? Aku memiliki hararan dalam diri-mu, walau kecil. Kenapa aku bilang kecil, karena lelaki memang ditakdirkan seperti itu. Seharusnya sebagai seorang lelaki aku harus tegas dengan perasaan-ku. Tak boleh berjudi seperti Tapi aku memiliki keyakinan, selama dengan-ku kamu akan melupakan mantan-mu. Meski aku tak akan mendapatkannya dengan instan.

***

 

”Aku pun masih memiliki harapan, bahwa suatu saat nanti kamu akan menyadari, masa lalu hanya sebuah kenanagan, jika mau di ingat, ingatlah seperlunya, tak perlu untuk mengulanginya.” Aulia rahmeen

Semakin malam, semakin terlihat sisi gelap dari dalam diri-mu, mel. Sesuatu yang selama ini kau pendam dengan rapat, sudah tak kuat lagi kau simpan. Kalau terus kau simpan, hanya menghasilkan beban dan air mata yang lebih parah dari sekarang kau alami.

To the point, aku hanya ingin kau jujur. Ceritakan semuanya.

Perntanyaan dari-ku seakan membuat kamu tertekan, dan berhasil membuat kamu yakin untuk bercerita habis-habisan malam itu.

Sebenarnya ada satu hal yang tak bisa terucap dari mulut-ku. Karena ku tau, aku akan kehilangan diri-mu selama-lamaya, kamu tak akan memaafkan-ku.

Au, aku masih cinta sama mantan-ku. Perasaan ini masih ada. Dan bukan untuk kamu.

Sayang –ku memang untuk kamu, tapi cinta-ku masih ada dimantan-ku. Aku masih cinta mantan-ku.

Lelaki seperti apa yang tahan mendengar pengakuan seperti itu?

Lelaki berhati baja pun akan luluh, hancur, dan apa lah itu. Tapi sekali lagi, aku tak mau menambah beban untuk-mu, Mel. Aku tak bisa meluapkan kekecewaan-ku

***

 

“Aku sayang sama kamu, cinta sama kamu, tapi gak tau kalau esok, apakah masih bisa seperti itu?” Aulia Rahmeen

Masih ingat, malam itu kau hanya bilang, silakan nanti kamu sholat istiharoh, minta petunjuk. Aku tak akan membebani-mu, kamu bebas, silakan memilih. Yang penting, kamu harus bahagia, dengan siapa pun itu.

Aku sayang kamu tapi cinta-ku masih ada dimantan-ku. Aku harus gimana?

Pertanyaan-mu itu membuatku tak kuat lagi. Aku belum negerti apa arti dari pertanyaanmu. Itulah alasan-ku hanya bisa menyuruh-mu sholat istiharoh tanpa memberikan solusi,

Sekarang semua keputusan ada ditangan-mu. Jika kamu memilih mantan-mu silakan, ku hargai. Begitu juga, kalau kamu milih-ku, silakan renungkan pilihan itu. Kamu harus menyadari apa arti memilih dan meninggalkan. Dan kamu jangan takut lagi untuk menyakiti dan disakiti. Serta jangan menyimpan apa pun, karena itu hanya menjadi beban bagi diri-mu, tidak bagi-ku.

***

 

Ending

Mel, kita saling menyadari jarak dapat mempengaruhi sebuah hubungan. Namun, ketika ada waktu lenggang, akan ku usahakan untuk main ke Surabaya, kamu pun begitu. Selama aku di Malang kamu gak tau aku sedang ngapain, sama siapa, meski kadang ku kasih tau aku lagi dimana, walau tak semua. Begitu juga dengan kamu, aku tak tahu menahu apa yang kamu lakuin disana. Dibohongi pun, aku tak tau. Aku pun begitu, aku bohongi pun, kamu gak tau. Aku juga sering ngumpul-ngumpul sama teman-teman-ku, cewek, cowok, ya mereka memang teman-ku. Aku gak suka dibatas-batasin kalau soal teman. Tapi aku tak akan mencintai cewek lain selain kamu selama kita masih pacaran. Aku tak akan membagi cinta-ku ketika kamu masih pantas untuk ku cintai. Aku juga punya keyakinan kamu gak akan mengotori hubungan kita. Meski kamu sudah mulai menggoyahkan keyakinan itu. Sekarang aku hanya akan menjalani, mengikuti cara-mu. Dan harapan-ku bisa melihat kamu bahagia.

Senin, 24 Agustus 2015

nona-ku, always.

“maaf, aku belum bisa bersikap dewasa.” - traveliya

Mengambil sebuah keputusan adalah hal yang amat sulit bagi sebagian remaja, termasuk aku. Tak jarang keputusan yang diambil keliru yang berujung penyesalan. Atau bisa juga (kebetulan) tepat.

Dulu, awal tahun 2015 aku punya e-resolusi. Aku harus memulai semua hal dengan suasana baru. Pembaharuan dalam sikap, perubahan dalam rutinitas, termasuk rutinitas tentang kedekatan-ku dengan seseorang.

Dia memang dekat dengan-ku. Aku pun merasa dekat dengan-nya. Tapi aku sudah memutuskan, bulat.

Aku ingin melupakan dia. Jauh dari kehidupan dia. Dia yang bernama Paramita Wulandari atau nona-ku. Tak habis pikir, aku sudah sangat yakin dengan tekad itu. Padahal, aku hanya mementingkan ego-ku saja. ego yang menginginkan aku untuk mencari seorang nona baru karena nona sekarang sudah kadaluarsa.

Sekarang, aku menyesal. Sungguh menyesal. Tapi dibarengi senyum bahagia. Bahagia karena aku sudah menyadari langkah yang ku ambil keliru, tak mungkin bisa dilanjutkan karena tak sesuai dengan hati nurani. Jauhkan ego dalam mengambil keputusan.

Tak semua keputusan buruk berakhr dengan buruk. Banyak sekali pelajaran yang dapat ku ambil dari ini semua, semoga aku bisa menjaga dan mengontrol ego. Aku harus banyak belajar dan membaca lagi.

Hai nona, kau tau, kamu hanya satu. Nona ya cuma nona. Seberapa pun jauh jarak yang ku tempuh, sebanyak apa pun cewek yang ketemui, tak akan ada yang bisa menggantikan kau, nona. Tak ada nona yang lain, tak ada nona yang baru, hanya kamu nona.

Goresan cerita kita akan tetap ada, dan semoga akan terus berjalan.

Sampai kapan pun kamu adalah nona-ku. Bagian dari kisahku.

Minggu, 16 Agustus 2015

Grandma, What’s Up!!!!!

“wanita tua yang mengasuhku, wanita tua yang membacakan dongen sebelum tidur, wanita tua yang memberikan uang jajan. Dia nenek-ku, salah satu malaikat-ku ketika kecil.”- traveliya

Sabtu, 15 agustus 2015, aku mendapat telpon dari adik-ku yang mengabarkan nenek-ku sedang sakit parah. Beliau tak sadarkan diri.

Malam hari-nya aku membeli tiket pesawat setelah bulat memutuskan untuk pulang kerumah. Namun, tiket untuk jadwal penerbangan malam sudah sold out. Refleks, aku memutuskan untuk membeli tiket besok pagi. Dan untung masih tersedia.

Dengan packing singkat aku berangkat dengan dijemput travel jam 5 pagi hari. Hanya butuh waktu satu setengah jam aku tiba di bandara juanda. Ketika itu aku tak sendirian. Aku bersama pacar-ku, melis. Dia yang mengantarkan dan menemani-ku selama menunggu waktu check-in.

Rasa sedih juga, ini pertama kali ada orang yang mengantarkan-ku ke bandara. Apalagi dia pacar-ku. Aku pun berpisah dengan-nya untuk check in ke dalam bandara.

Saat aku berjalan menuju meja petugas, seperti ada yang mengikuti langkah kaki-ku dibelakang. Ku palingkan tatapan kebelakang, ada seorang lelaki berpakaian rapi. Dia menawarkan-ku untuk bertukar tiket, karena clien­-nya masih dalam perjalanan.

Aku sih oke-oke aja, tak salahnya membantu orang. Apalagi menguntungkan bagi-ku juga. Namun, aku merasa aneh, sehingga aku tetap siaga dan berhati-hati.

Akhirnya, pertukaran jadwal berjalan lancer, dan aku tiba di Banjarmasin lebih cepat dari jadwal semula.

Perjalanan ku lanjutkan dengan naik taksi antar-kota. Butuh waktu 4 jam untuk sampai ke rumah.

Pukul 5.00 WITA aku sampai dirumah. Spontan ku lepas sepatu, besalaman dengan ayah dan ibu-ku sambil menari dimana nenek-ku.

Nenek-ku menangis melihat cucu kesayangan-nya datang. Lama sekali beliau menangis. Hal itu membuat aku terharu.

Ku lihat, ingin sekali beliau berdiri dan memeluk-ku. Tapi tak mampu, untuk membuka mata pun beliau sangat sulit.

Ku peluk nenek-ku, ku kecup kening-nya. Terasa sangat panas tubuh beliau. Pasti sangat sakit.

Sekali lagi beliau menangis, seperti menandakan kalau beliau ingin sekali berdiri, memeluk-ku, dan memandangi-ku. Namun keadaan tidak sedang berpihak dengan beliau. Alhasil, hanya air mata bisa menggantikan itu semua.

Hari ini, sudah memasuki hari ketiga semenjak beliau sakit. Sakitnya tidak terlalu parah. Tekanan darah beliau rendah, sangat rendah. Hal itu yang menyebabkan sampai sekarang tak bisa berdiri sendiri, analisku.

Nenek-ku mencurahkan hatinya kalau beliau ingin sekali berdiri, berjalan, dan beraktivitas seperti biasa. Tapi ketika sudah berdiri, dunia seperti berputar, tak mengijinkan untuk berdiri.

Tak ada yang bisa ku lakukan, selain menemani nenek-ku, mengantarkan ketika mau ketoilet, dan membuatkan minum ketika beliau haus.

Tubuhnya semakin kurus, tapi aku selalu memegang teguh, kalau semua akan kembali ke Maha Kuasa. Tapi setidaknya aku bisa menjaga beliau seperti apa yang nenek-ku lakukan ketika ku kecil dulu.

sekarang, aku tak tau kapan balik ke malang. selama tak ada hal yang terlalu mendadak, aku disini, untuk nenek-ku.

Minggu, 02 Agustus 2015

Melis–telepon pertama-

Tadi malam pukul 00.00 terjadi perbincangan yang cukup panjang via telepon. Kejadian yang tidak direncanakan sama sekali. Awalnya hanya sms-an, kemudian aku telat memerikan balasan. Aku cukup sibuk karena ada kerjaan bersih-bersih. Dia pun nge-sms sampai 3x, rupanya dia menyangka aku sedang marah.

Aku yang cuek ini bisa marah? Tanyaku pada diri sendiri.

Setelah sms yang ke-3 gak aku balas, muncul-lah inisiatif-nya untuk menelpon. Paniknya membuat aku terkejut. Sebegitu penting-nya kah aku dimata Melis? Well, liat saja.

Obrolan kami dimulai dengan hal-hal ringan saja. Namun, semakin malam, semakin mengarah dewasa. Melis juga meladeni dengan baik.

Tak tau kenapa, aku suka perhatian-nya.

Tak tahu kenapa, aku tahan telepon-an sampai satu jam.

Tak tahu kenapa, aku mau di ajak telepon, yang menurut-ku kaya anak ABG aja.

Suara-nya, ketawa-nya, owh… ist so sexy.

Melis lagi kangen kepada-ku. Setidaknya itu yang dia ucapkan saat menelepon-ku. Aku hanya bisa memberikan ketenangan dengan suara malam itu, bukan dengan kehadiran disamping-nya. Aku juga sering minta maaf kalau tak bisa selalu hadir menemani-nya. Dan perlu digarisbawahi, aku tak pernah berhasil menjalin hubungan jarak jauh. Suka pun tidak, sekarang? Pengecualian.

Aku mimiliki perasaan yang sangat dalam kepada Melis. Sayang, cinta, atau suka, apa pun itu, aku hanya ingin membahagiakan-nya.

Ternyata dia mencintai-ku sudah lama. Sejak empat tahun yang lalu. Tapi dia takut atau masih belum membedakan apakah itu perasaan suka, cinta, atau sayang. Bagi-nya aku adalah teman dan sahabat terbaik-nya. Dia bercerita lepas malam itu.

Aku tak pernah menyangka akan hal itu. Meski aku juga berpikiran yang sama tapi taka da niatan untuk menjalin hubungan dengan-nya empat tahun yang lalu.

Kalau hubungan ini terjadi empat tahun yang lalu. Arrgghh.. pasti sudah hancur. Aku masih ke kanak-kanak-an. emosi-ku masih rentan. Tak mungkin bisa mengimbangi Melis yang dari dulu sudah keliatan dewasa.

Da sekarang? Aku pun tak tahu, apa ini waktu yang tepat untuk kami menjalin hubungan.

Sabtu, 01 Agustus 2015

Melis -tentang logika dan perasaan-

Hari-hari berikutnya aku makin merasakan perhatian Melis yang mengebu-gebu. Tak pernah ku sangak dia sangat detail memperhatikan pacarnya. Bisa ku tebak, mantan-mantanNya dulu juga diperlakukan begitu oleh Melis. Sungguh beruntung sekali kalian, tapi lebih beruntung lagi aku.

Seiring berjalannya waktu, aku mulai nyaman, yakin dan mencoba menceritakan Melis kepada teman-teman akrab-ku. Mereka menyarankan jangan mengulangi kesalahan masa lalu, jaga Dia, serius, jangan main-main lagi. Mereka serius menginginkanKu lebih dewasa dengan hubungan sekarang ini.

Dia selalu memulai nge-sms tiap pagi. Sedangkan aku sering ketiduran ketika lag isms-an pada malam hari.

Sebenarnya aku males sms-an terus. Males mikir kalau yang dibahas sudah gak ada lagi. Tapi Melis beda, dia selalu memulai, membawa suatu bahasan yang menjadikan keadaan tak lagi membosankan. Aku suka itu.

Apalagi harus nge-sms duluan, paling males. Aku selalu merasa, pacar harus nge-sms duluan, memberi kabar duluan, ngasih perhatian duluan, dan setelah itu baru aku balas berkali-kali lipat untuk dia. Sejak kapan ego-ku seperti ini? Ku juga sudah lupa.

Teman-teman-ku banyak yang ga setuju dengan ego seperti itu. Sudah lama mereka menyarankan untuk mengubah kebiasaan seperti itu.

Slalu ku coba tapi aku merasa belum menemukan wanita yang harus diperhatikan seperti itu.

Dan sekarang, mulai terpikir kalau orang itu Melis, mungkin.

Belum pernah aku menemukan wanita seperti dia.

Dulu, aku mengira dia wanita yang cuek. Ternyata dia wanita idaman. Aku takjub denganNya. Dan sekarang mulai tergila-gila.

Tapi ada satu hal yang masih membayang-bayangi isi kepala-ku. Aku masih berpikiran dia masih sakit hati karena baru-baru aja diputusin pacarnya. Seminggu sebelum kami jadian Melis baru diputusin pacarnya. Tapi beberapa hari kemudian, mantannya tetap menelpon sambil memanggil sayang. Aku tau itu setelah mendengar cerita dari Melis. Dia bercerita dengan nada kesal.

Logika-ku, dia mungkin sedang melampiaskan rasa sakit hati dan rasa kecewaNya kepada-ku. Tapi aku bukanNya tidak nyaman dengan keadaan sekarang. Sebaliknya, aku merasa dimanjakan oleh perhatianNya. Aku hanya berjaga-jaga. Tidak menjadi cowok yang polos.

Perasaan-ku, dia mungkin saja memang begitu. Seorang wanita yang perhatian. Yang mudah sekali move on. Tak begitu mempersoalkan masa lalu. Fokusnya hanya apa yang dia jalani sekarang ini.

Dua hal ini, baik logika dan perasaan, harus tetap ada pada setiap lelaki. Dan aku lebih suka logika dan perasaan dapat berjalan berdampingan selama menjalin hubungan dengan Melis.

Rabu, 29 Juli 2015

Melis *

--

Hari selanjutnya ku beranikan diri untuk mengajaknya kencan. Sore hari kami agendakan untuk berdua, pertama kali sejak awal pacaran.

Ketika menuju rumahnya, jantung berdetak tak seperti biasanya. Selain takut canggung, aku juga masih belum siap ketemu ayahnya, seorang intel tentara.

Sesampai dirumahnya, tak keliatan ayahnya, ibu melis pun terlihat sangat sibuk jadi kami putuskan untuk langsung saja.

--

Sesampai di alun-alun kota, kami duduk sambil melihat orang yang sedang asik bermain bola. Sesekali kami mencoba untuk mengobrol. Tak ada kesulitan yang terjadi, kami selalu punya sesuatu untuk dibahas bersama.

Indah, sungguh indah, kau cantik hari ini dan seterusnya.

SenyumNya, ketawaNya, dan sopanNya dia setelah menjadi pacar sungguh membuat ku hanya bisa slalu bersyukur.

--

Besok adalah hari rabu. Hari rabu adalah hari terkahir untuk bisa bertemu sebelum kami berpisah.

Sudah tiba waktuKu untuk kembali menjadi anak perantauan. Hari kamis aku putuskan untuk ke Malang, meninggalkan orang yang ku sayang.

Siang hari aku memintaNya untuk datang kerumahku. Tapi dia sedang sibuk. Sore hari gentian dia yang mengajak untuk jalan, tapi aku sibuk. Disini kami mulai cemas, takut tak bisa bertemu, melepas kangen yang sudah menjadi-jadi.

Akhirnya malam hari kami bisa meluangkan waktu untuk menikmati kebersamaan. Sebenarnya sudah sering kami jalan berdua tapi dengan status pacar, sungguh dia sangat berbeda. Dia selalu menonjolkan kasih sayangNya yang belum pernah diperlihatkan ketika masih berteman.

Malam hari sekali kami mengelilingi kota Barabai. Melewati jalan perkotaan, lanjut ke alun-alun, dan lewat depan SMA kami dulu yang penuh dengan kenangan.

Jam 10.00 pm dia mengantarku sampai depan rumah. Dia sedikit malu ketemu orangrua. Aku paham itu, aku juga mengalaminya. Ku persilakan dia langsung pulang tanpa mampir. Dia mencium tanganku layak isteri ke suami. Ku suka. Dikeheningan malam, jalan depan rumahku sudah sepi, ingin sekali memelukNya malam itu. Tapi tak mungkin ku paksakan

Senin, 27 Juli 2015

Melis

Hari kedua pacaran masih berlalu dengan rasa sedikit canggung. Dia sudah memanggilku sayang, dan menggunakan bahasa sopan ketika sms-an. Asik dan romantis, hanya itu yang kurasakan saat berstatus pacaran dengan dia meski aku merasa canggung dengan sebutan sayang.

Belum ada pertemuan antara kami berdua sejak hari special itu. Aku atau dia masih mencari-cari alasan untuk bertemu. Hasrat kami untuk bertemu memang sudah tak tertahan lagi.

Rasa sayang mulai tumbuh dari dalam hatiku. Ingin sekali menyalurkannya. Ingin sekali mengobrol mesra. Ku ingin dia, saat ini juga hadir di depanku.

Tapi ada rasa ketakutan yang masih membayangi-ku. Apa yang harus ku lakukan ketika bertemu dengan dia?

Canggung? Mungkin saja.

Saling tatap doang? Hmm…

Diam-diaman? -_-

Saling balas senyum? Indah juga.

Ketawa-ketiwi? Ya, kurasa ini.

Apapun yang terjadi nanti semua masih menjadi tanda tanya. Ingin segera ku bertemu denganNya. Semoga saja.