Selamat datang!!

Selamat Datang digubuk Rahmeen yang sederhana ini, Selamat membaca ^_^

Pilih Kategori

Rabu, 29 Juli 2015

Melis *

--

Hari selanjutnya ku beranikan diri untuk mengajaknya kencan. Sore hari kami agendakan untuk berdua, pertama kali sejak awal pacaran.

Ketika menuju rumahnya, jantung berdetak tak seperti biasanya. Selain takut canggung, aku juga masih belum siap ketemu ayahnya, seorang intel tentara.

Sesampai dirumahnya, tak keliatan ayahnya, ibu melis pun terlihat sangat sibuk jadi kami putuskan untuk langsung saja.

--

Sesampai di alun-alun kota, kami duduk sambil melihat orang yang sedang asik bermain bola. Sesekali kami mencoba untuk mengobrol. Tak ada kesulitan yang terjadi, kami selalu punya sesuatu untuk dibahas bersama.

Indah, sungguh indah, kau cantik hari ini dan seterusnya.

SenyumNya, ketawaNya, dan sopanNya dia setelah menjadi pacar sungguh membuat ku hanya bisa slalu bersyukur.

--

Besok adalah hari rabu. Hari rabu adalah hari terkahir untuk bisa bertemu sebelum kami berpisah.

Sudah tiba waktuKu untuk kembali menjadi anak perantauan. Hari kamis aku putuskan untuk ke Malang, meninggalkan orang yang ku sayang.

Siang hari aku memintaNya untuk datang kerumahku. Tapi dia sedang sibuk. Sore hari gentian dia yang mengajak untuk jalan, tapi aku sibuk. Disini kami mulai cemas, takut tak bisa bertemu, melepas kangen yang sudah menjadi-jadi.

Akhirnya malam hari kami bisa meluangkan waktu untuk menikmati kebersamaan. Sebenarnya sudah sering kami jalan berdua tapi dengan status pacar, sungguh dia sangat berbeda. Dia selalu menonjolkan kasih sayangNya yang belum pernah diperlihatkan ketika masih berteman.

Malam hari sekali kami mengelilingi kota Barabai. Melewati jalan perkotaan, lanjut ke alun-alun, dan lewat depan SMA kami dulu yang penuh dengan kenangan.

Jam 10.00 pm dia mengantarku sampai depan rumah. Dia sedikit malu ketemu orangrua. Aku paham itu, aku juga mengalaminya. Ku persilakan dia langsung pulang tanpa mampir. Dia mencium tanganku layak isteri ke suami. Ku suka. Dikeheningan malam, jalan depan rumahku sudah sepi, ingin sekali memelukNya malam itu. Tapi tak mungkin ku paksakan

Senin, 27 Juli 2015

Melis

Hari kedua pacaran masih berlalu dengan rasa sedikit canggung. Dia sudah memanggilku sayang, dan menggunakan bahasa sopan ketika sms-an. Asik dan romantis, hanya itu yang kurasakan saat berstatus pacaran dengan dia meski aku merasa canggung dengan sebutan sayang.

Belum ada pertemuan antara kami berdua sejak hari special itu. Aku atau dia masih mencari-cari alasan untuk bertemu. Hasrat kami untuk bertemu memang sudah tak tertahan lagi.

Rasa sayang mulai tumbuh dari dalam hatiku. Ingin sekali menyalurkannya. Ingin sekali mengobrol mesra. Ku ingin dia, saat ini juga hadir di depanku.

Tapi ada rasa ketakutan yang masih membayangi-ku. Apa yang harus ku lakukan ketika bertemu dengan dia?

Canggung? Mungkin saja.

Saling tatap doang? Hmm…

Diam-diaman? -_-

Saling balas senyum? Indah juga.

Ketawa-ketiwi? Ya, kurasa ini.

Apapun yang terjadi nanti semua masih menjadi tanda tanya. Ingin segera ku bertemu denganNya. Semoga saja.

Minggu, 26 Juli 2015

#Edisi Khusus

jangan terjebak dengan nama rasa nyaman. Berevousi-lah. Meski belum tau itu akan berdampak positif atau negatif, jalani saja dengan penuh harapan.” - #traveliya

Sebuah edisi khusus tentang penulis yang akan bercerita tentang seseorang wanita. Namanya Melis, usianya kurang lebih denganku. Tanggal 27 juli 2015 aku memproklamasikan kisah asmara denganNya. Dia hanya merespon dengan senyum sambil mengangguk tanda setuju dengan hari yang bersejarah ini.

Kisah kami lumayan panjang. Pertemanan kami sudah memasuki tahun keenam sejak pertama kali kenal.

Kali pertama kenal ketika masa putih abu-abu, kelas 2 SMA. Dua tahun kami menempati kelas yang sama untuk mengejar cita-cita. Pertemanan kami pun semakin akrab, dan lebih akrab lagi.

Dulu jalan cinta kami berbeda, sejak kelas dua dia tahu aku pacaran dengan cewek yang juga sekelas dengan kami. Dia juga tahu kalau akhirnya aku juga putus.

Melis, setahu-ku juga diantar pacarnya tiap mau sekolah, bahkan dijemput juga. Wajarlah, anak muda. Kisah cintaNya, romantic.

Kelas 3, aku punya pacar lagi. Melis juga kenal dengan pacarku ini meski ga sekelas saat kelas 3 tapi sekelas saat kelas 2.

Melis, sudah putus dengan pacar yang sering mengantar-jemputnya. Dia jadian lagi dengan cowok, temanku, sekelas lagi. Tapi hanya berumur tiga bulan.

Saat awal perkuliahan, aku putus dengan pacarku. Dan kami dipertemukan lagi dengan sebutan yang lebih dewasa, mahasiswa.

Melis, melanjutkan studi disurabaya, bertetanggaan dengan tempat studi-ku, Malang. kalau ada waktu luang, kami sempatkan untuk saling menengok. Melis yang paling sering main ke Malang, 3x dia main ketempat kos-ku. Sedangkan aku hanya 1x main ketempat dia. Padahal aku beberapa kali disurabaya, tapi karena aku berdua sama cewek, jadi gak enak hati untuk mampir.

Jarang ada kontak antara kami karena kami memang hanya teman biasa. Tapi ya tetap, gak pernah kami lost contact. Kalau ganti nomer, pasti ngasih tahu. Kenapa ya? Mungkin sama-sama perlu.

Kalau liburan pun kami sempatkan untuk ngumpul, saat kami balik ke kempung halaman masing-masing. Rumah kami satu kabupaten, meski lumayan jauh. Butuh waktu 15 menit untuk sampai di depan rumahnya.

Selama melanjutkan studi di jawa timur, kami (mungkin) saling tahu satu sama lain kalau sering gonta-ganti pasangan. Berhubung kami berteman di media social yang dijadikan tempat untuk berbagi kemesraan dengan pasangan dalam bentuk foto.

Meski begitu, pertemanan kami selalu berjalan seperti yang dulu. Tapi perlu digarisbawahi bahwa taka da suatu pertemanan yang mulus begitu saja. pertemanan kami pun naik turun, marah-marahan, saling menjauh, dan banyak hal lagi.

Akhir-akhiri ini, aku sering menghabiskan waktu bersamanya. Selang hari, ketemu. Selang beberapa hari, bertemu lagi. (mungkin) karena kebiasaan berdua terus menerus membuat hati kami menginginkan status yang lebih. Sebuah hubungan yang dapat menyalurkan kemesraan dan kasih sayang. Yaitu pacaran.

Melis memang sudah dikenal sama orangtua-ku. Begitu seringnya Dia main kerumahku, tak terhitung sudah. Kadang membantu saat ada hajatan.

Aku, baru akhir-akhir ini main kerumahnya. Meski dulu pernah sekali untuk menemani-ku kesebuah acara maulid-an temanku, yang ternyata teman melis juga. Cuma dengan bapaknya yang belum ku kenal. Akhir-akhir ini, Melis sering bercerita tentang-ku. Hal itu menyadarkan-ku terlalu sering ngajak jalan dia. Ternyata melis gak pernah dijemput cowok untuk diajak jalan-jalan sebelumnya. Dari situ mungkin orangtuaNya penasaran, lalu melis jadi banyak dicerca pertanyaan. Ku rasa melis dapat menjelaskan semuanya.

Hubungan kami semakin dekat, apalagi baru putus sama pasangan masing-masing. Awalnya, baik aku mapupun melis ragu menuju jenjang pacaran. Yup, kami sudah terbiasa berteman, dan ngomong seadanya saat lagi bersama.

Akhirnya, kami pun setuju untuk berpacaran. Semoga saja tidak terjadi kecanggungan, tetap nggak ja’im, dan apa adanya dalam menjalin hubungan ini.

Sungguh, aku mencintainya, sangat mencintainya. Sekarang ku hanya berharap dia juga begitu.

Kamis, 23 Juli 2015

#2.5

rindu adalah semangat untuk tetap memiliki sebuah harapan.” – traveliya

Kami bergerak menuju Genteng, sebuah kota yang berdiri tegak di atas gunung. Tak perlu mendaki untuk ke sana. Cukup dengan menaiki kereta gantung yang tak semahal di Singapore.

Tujuan kami adalah sebuah bangunan mirip istana kerajaan yang berdiri tegap di atas gunung. Dalam perjalanan, pemandangan hutan yang dipenuhi monyet-monyet akan terlihat sangat dekat. Kami habiskan waktu perjalanan untuk berfoto di dalam kereta gantung. Untuk keselamatannya sudah sagat standart. Jadi, santai dan nikmati perjalanan anda.

Kulit kami merinding menyesuaikan dengan suhu dingin Genteng tatkala baru menginjakkan kaki disana. Ketika menengok ke atas, terlihat separuh bangunan tertutup awan.

Yang terkenal ditempat ini adalah judi legal disamping permainan yang sangat lengkap. Tak terhitung berapa jauh sudah kami berjalan kaki mengelilingi bangunan ini. Seperti tak berujung, sangat luas sekali.

Tak lupa untuk mengabadikan momen selama di genteng. Meski sangat dingin, tempatnya tak pernah sepi pengunjung.

Kami tertarik dengan aroma gorengan tadi sebuah tempat yang baru kami lewati. Kami sempatkan untunk singgah dan membeli beberapa gorengan. Yang paling ku suka kala itu adalah gorengan duren, yang lumayan cukup untuk memanaskan badan.

Setelah puas menikmati wisata meski kami hanya melihat-lhat saja. perjalanan pulang dimulai, tujuan selanjutnya adalah KL, tween tower.

Malaysia juga tak mau kalah soal transportasi. Mereka juga memiliki MRT, yang menghubungkan tempat-tempat yang ramai dikunjungi, seperti merjid, mall, hotel, pusat oleh-oleh, pusat tempat makan, dan lain-lain.

Beda dengan Jakarta, meski belum pernah kesana, sering ku dengar berita tantang kemacetan. Di Negara tetangga, kita tak perlu lagi bermacet-macetan. Cukup dengan naik MRT, tak perlu ada kontak kaki dengan aspal. Kita seperti punya kota sendiri di atas. Its very amazing!

Langkah kami sudah tak sabar untuk memasui tween tower. Tiba-tiba kami menghentikan langkah untuk berfoto ria sebentar di depan bangunan pencakar langit tersebut.

Setiba di dalam tween tower, kami dibuat takjub. Ternyata di dalamnya persis seperti mall. Berbagai macam merk jam tangan dan clothing terkenal berjejer rapi.

Setiap langkah kami terlihat sangat gagah dengan memikul tas carier yang beratnya 20 kg lebih. Mungkin sedikit terlihat aneh, tapi kami layak disebut backpacker tersesat di mall.

Seharian penuh kami habiskan mengelilingi Malaysia dengan biaya yang lumayan murah. Tak ada tujuan wisata lagi, kami hanya menghabiskan uang sembari menunggu keberangkatan pesawat.

Mulai dari kuliner, oleh-oleh, berfoto, berjejelan di MRT, dan sampai ketemu seorang penjual nasi kuning asal sumatera. Beliau terlihat sudah cukup tua, kulitnya keriput. Hanya di warung ibu ini kami selalu membeli makanan. Disamping murah, rasanya juga mirip dengan masakan Indonesia.

Matahari mulai bergerak tinggi menandakan untuk segera menuju bandara dan meniggalkan Malaysia. Dalam perjalanan menuju bandara, kami melewati sepang, sebuah sirkuit yang terkenal di Moto GP. Hasratku pengen mampir tapi apa daya bus yang kami tumpangi tidak berhenti di sepang melainkan di depan terminal udara.

Perjalanan panjang kami berakhir ketika kami kembali menginjakkan kaki di bandara juanda, Surabaya. Lalu kembali ke malang berbantuan travel. Dan sampai di kos. Lalu semua tertidur lelap. Minggu yang indah, seperti mimpi. Gnite.

Rabu, 22 Juli 2015

#2.4

aku sadar satu hal, aku tak bisa terus-terusan bergantung pada seseorang.” #traveliya

Pagi hari, tgl 26 januari 2012 kami menuju Singapore menggunakan bus. Setibanya di sana, kami disambut bangunan khas ala Eropa. Sebenarnya di Indonesia juga banyak bangunan seperti ini bekas peninggalan belanda. Namun di Singapore semua tersusun rapi, dengan tata kelola kota yang baik. Selama di Singapore kami banyak menghabiskan tempat wisata dengan berjalan kaki. Karena taksi sangat mahal. Pernah kami mencoba nego dengan salah satu taksi yang kami temui di jalan, tapi sang supir menjelaskan mereka akan disanki karena telah melanggar peraturan.

Sangat disiplin, itulah rakyat Singapore bahkan para wisatawan harus mengikuti peraturan mereka. Orang yang tidak teratur akan menjadi atau terpaksa disiplin selama di sini.

Kami berempat tak begitu menemui kesulitan untuk mengikuti peraturan mereka terkecuali merokok. Kasian sekali teman-temanku ketika mau merokok harus menengok kanan kiri terlebih dahulu untuk mencari label tempat merokok. Bahkan pernah mengelilingi kota hanya untuk mencari tempat yang ada labelnya.

Menikmati kota ala eropa dengan berjalanan kaki membuat perut lapar. Yes, kami menemukan rumah makan padang. Sudah sangat kangen dengan masakan Indonesia yang khas rempah-rempahnya.

Kami keluar dari rumah makan dengan wajah kurang puas. Sungguh, rasanya tidak enak. Bisa dibilang itu bukan rending. Gak pedas samasekali, ga ada paduan rempah-rempah dikuahnya. Sebenarnya tak masalah dengan rasanya karena di Indonesia juga banyak menjual rendang murah dengan rasa dibawah standart. Tapi rasanya tidak sesuai dengan harga yang satu porsi 5 dollar Singapore atau 40ribu.

Kami melanjutkan perjalanan dengan tujuan marina bay atau lebih dikenal patung singa. Disana kita juga dapat melihat kapal nabi nuh yang menyangkut tinggi di atas bangunan pencakar langit.

Kami berubah selama disingapore. Yang biasa menyeberang sembarangan, sekarang kami harus mencari zebra cross terlebih dahulu. Yang dulu buang sampah sembarangan, sekarang masukin saku, yang dulu jomblo, sekarang ya tetap, ha ha.

Singapore juga lebih maju dari Indonesia dalam hal transportasi. Kemana-mana kami dimanjakan dengan MRT, tidak berbeda jauh seperti di tailand. Tapi Singapore menggunakan MRT lebih tanah, lebih keren. Tapi aku mengeartikannya, karena lahan di Singapore sangat terbatas, kemudian dengan kepintaran orang-orang yang ada disana maka dibangunglah MRT bawah tanah. Mall, pasar, atau apa pun itu, semua menggunakan tata kota bawah tanah. Its very amazing!

Dengan berjalan kaki, kami melanjutkan perjalanan dari station. Indah sekali Singapore. Dalam hati aku sempat berkata “ indahnya Singapore karena dibuat-buat, beda dengan Indonesia yang indah karena alamnya” aku melanjutkan dengan senyuman.

Sesampai di marina bay, kami sempatkan untuk foto-foto lalu dilanjutkan menikmati bay atau teluk yang dikelilingi bangunan pencakar langit. Tidak lupa untuk menikmati kapal nabi nuh, dan keindahan lainnya.

Setelah puas, kami memutuskan untuk makan siang. Sekarang dengan sedikit hari-hari. Sudah diputuskan untuk pergi ke KFC sebuah gedung bertingkat yang kami lihat dari kejauhan.

Sesampai disana, agak sedikit minder sih, rata-rata yang makan disana orang-orang berdasi. Ya biarin lah, kan sama-sama bayar. Kami pun makan denga lahap. Yummy….

Sehabis makan aku memandang takjut tata kota disini. Tiap gedung dihubungkan dan pasti terhubung dengan rumah makan. Ketika mau makan tak perlu panas-panasan untuk keluar membeli makan. Cukup melintasi jalan berupa terowongan untuk pergi ke rumah makan. Its very amazing.m

Setelah itu kami istirahat disebuah masjid setelah mengitari rusunawa dengan puluhan lantai. Dimesjid aku sedikit teringat dengan debat kami untuk berangkat ke universal studio. Aku dan zay setuju bernagkat, sedangkan sebaliknya dengan dua lainnya. Memang lumayan mahal hanya untuk menuju pulau sentosa, menyeberang dengan kereta gantung dengan biaya 50 dollar atau 400ribu.

Memang kehidupan di Singapore sangat beda jauh. Sore hari kami putuskan untuk pulang karena tak mungkin kami bertahan lebih lama lagi dengan kehidupan sngat glamour.

Kami pulang menggunakan bus. Dan jelas, harganya jauh sekali lebih mahal dari bus yang kami tumpangi di Malaysia. Sebelum pulang, kami sudah menghabiskan uang dollar untuk membeli cindera mata khas Singapore yang menurutku biasa sekali.

Sudah bulat tekat kami untuk menghabiskan sisa liburan di Malaysia.

*next, kami akan liburan di tempat selatan Malaysia. Sebuah tempat yang di desain sebagai parawisata Malaysia. :)

Senin, 20 Juli 2015

#2.3

Perjalanan malam di mulai. Kota Bangkok juga sangat bersahabat dengan pelancong dengan uang pas-pasan. Hanya bermodal MRT dan jalan kaki, tak begitu banyak menghabiskan uang untuk keluyuran. Bebas macet pula, sungguh memanjakan.

Hal yang kurang mengenakkan dari Bangkok adalah susahnya mencari makanan halalan toyibah. Bagi seorang muslim seperti kami berempat, pasti sangat menghindari makanan paling populer diBangkok yaitu daging babi. Kami selalu makan di McD atau KFC. Bukan sombong tapi hanya main aman karena kami tak tau makanan itu terkandug daging babi atau nggak.

Kami berempat semua cewek-cewek Bangkok itu cantik, putih, tapi hati-hati terjebak dengan jenis kelamin mereka yang tak menentu, hi hi hi. Jangan menyangka yang cantik itu berjenis kelamin cewek, ada cowoknya juga lho.

Mengitari Bangkok di malam hari lumayan mengasikan dan melelahkan. Mencicipi makanan tradisional yang dijajakan pedagang kaki lima. Melangkahkan kaki dijalan yang nggak pernah dilewati. Menguji ingatan ketika balik ke hotel, meski kadang tersesat dulu. Memotret keindahan gedung pencakar langit dengan cewek cantik yang mondar-mandir.

Sudah hampir tengah malam, kami pun pulang, istirahat, tidur, dan terlelap sampai pagi.

Jam 8 pagi dengan wajah yang masih capek, kami keluar menikmati pagi Bangkok dipagi hari. Jalanan masih terlihat sepi. Hanya beberapa pedagag kaki lima yang menghiasi trotoar. Meski kota metropolitan, udaranya cukup sejuk saat tahun 2012.

Kaki kami semakin berat untuk dilangkahkan. Kami pun mencoba mencari sesuatu yang dapat dibeli untuk mengisi tenaga yang mulai kehabisan bensin. Rasa takut masih menghantui, kami tetap berhati-hati dalam membeli makanan.

Keluar dari komplek hotel, lanjut mengitari jalan raya yang hampir mirip dengan kota di Indonesia, yakni banyak pedagang kaki lima. Tiba-tiba Iki bertanya kepada salah satu penjual. Dia memberi kode kalau untuk membeli makanan disitu.kami pun membeli beberapa daging dan tak lupa beberapak bungkus nasi.

Diperjalanan Iki menceritakan bahwa sebelum membeli sudah bertanya itu daging apa, dan mendapat penjelasan halal dari penjual. Kami pun melahap makanan tanpa rasa takut.

Matahari mulai menjelang akhir. Kami pun memutuskan untuk kembali ke hotel. Capek, keren, dan banyak hal yang tak bisa tergambarkan. Mulai naik kapal mengitari wisata sungai dengan pemandangan rumah-rumah warga pinggir sungai. Ketemu pelancong asal Jakarta, cewek Bangkok yang cantik jelita, dan ikut ritual ketika masuk patung budha tidur, semoga aja kami tidak murtad, hehe. Dan tak ketinggalan tersesat, tatkala gak tau memilih kapal yang mana untuk kembali pulang.

----

Besok pagi-pagi kamu harus kembali ke station. Selesai sudah perjalanan di Bangkok, selamat tinggal Bangkok, terima kasih Hatyai, kami akan kembali lagi, Thailand.

Kereta api menjadi pilihan kami untuk kembali ke Malaysia. Tentu dengan alasan murah, dompet kami lumayan terkuras selama di Bangkok. Perjalanan ditempuh selama duabelas jam. Kami memilih tempat yang bisa untuk tidur, wow, fasilitas keretanya lumayan mengagumkan.

Pulang pun kami tak mudah dengan hanya bermodal duduk manis saja. diperjalanan kami bersebalahan dengan bencong. Idih, dia menggoda-goda kami terus. Kalau aku mengingat ini, jijik sekali. Apalagi temanku cerita, bencong itu selalu mengikutinya ketika buang air kecil ke toilet.

Menunggu duabelas jam juga sangat membosankan. Untung kami sudah mempersiapkan kartu remi, selama perjalanan banyak kami habis kan bermain kartu remi. Sampai akhirnya ngantuk menghampiri, dan kami bubar untuk kembali ketempat masing-masing. Tempatnya pun bukan tempat duduk biasa, 90% sama persin seperti ranjang tempat tidur, dilengkapi kasur, dengan tirai penutupnya.

Pukul 3 pagi waktu Malaysia kami tiba di station, itu bukan station utama yang kami temui beberapa hari yang lalu. Hanya sebuah station kecil yang terlihat sepi dan tak menyediakan transportasi.

Sulitnya mencari transportasi membuat kami tidur dipinggir jalan beberapa saat. Takut kena razia, kami pun menyewa taksi untuk mengantarkan kami ke warung makan terdekat.

Di dalam mobil taksi kami hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, karena hampir saja kami nyasar ke Utara Malaysia. Ceritanya gini, ketika kami di station kereta api Bangkok, kami menaiki kereta yang keliru dengna tujuan yang berbeda jauh. Kami sudah duduk dengna barang tersusun rapi di dalam kereta yang kami rasa menuju Kuala Lumpur. Tiba-tiba Iki dan Yandra minta ijin keluar sebentar. Sebagai ahli hisap, selalu terasa kurang kalau tidak merokok. Mereka keluar untuk menghabiskan sebatang rokok. Terlihat dari dalam kereta, mereka pun mulai mnegobrol dengan khas canda tawa. Tiba-tiba mereka berlari menuju kami dan memberitahukan agar segera keluar dari kerete tersebut. aku pun keluar dengan beberapa pertanyaan yang mau diungkapkan di kepala. Sesampai diluar Iku bercerita, kalau dia sempat iseng nanya ke petugas gerbong kereta tentang tujuan mereka. Ternyata kereta yang kami naiki keliru. Piuuuh,, hampir saja. kami pun hanya tertawa setelah memasuki kereta yang ditunjukan petugar gerbong.

Dan kami sudah melupakan itu, biarlah mencari cerita masa lalu untuk dibagikan. Sekarang kami berada di Malaysia. Tujuan kami lebih dulu ke Singapore, baru balik lagi ke Malaysia. Menurutku itu merupakan rencana cerdas karya Iki agar meminimalkan pengeluaran. Perlu diketahui, Iki merupakan sarjana akuntansi.

*sudah ah, mau makan dulu. To be cont…

Minggu, 19 Juli 2015

#2.2

Sesampai di sana, hanya ada sisa jejak ban dari bus. Tatapan kami kosong sambil tengok kiri-kanan.

“pak, bus yang tadi kami tumpangi tadi kemana?” tanya iki sambil sesaat menghela nafas kecapekan.

“oh, lagi di cuci.” Jawabnya dengan santai.

“kamera kami ketinggalan pak, tolong ditelponin.”

Bapak penjaga travel menjawab dengan anggukan sambil mulai menelpon seseorang. Terjadi perbincangan panjang yang tak kami pahami karena menggunakan bahasa Thailand.

“ada kameranya, tunggu selesai di cuci dulu ya bus-nya.” Kata pak travel beberapa saat setelah mengakhiri telpon.

Kami hanya menunggu tapi masih deg-degan. Rasa tak karuan campur aduk menjadi satu.

Satu jam kemudian, bus tadi kembali. Tiba-tiba supir bus keluar membawa sesuatu yang mengeluarkan cahaya emas, iya, sebuah kamera yang sedang ditunggu oleh empat sahabat.

Kami kembali ke station untuk melanjutkan pembelian tiket yang tertunda. Langkah kaki dibarengi tawa lepas yang dari tadi belum bisa dikeluarkan, pecah. Canda-tawa menemani sampai kembli di station.

Ini merupakan kali pertama aku naik kereta. Diluar negeri lagi. Perjalanan kami lanjut ke Bangkok dibarengi updatei status di BBM.

Jam 5 pagi waktu Bangkok kami tiba di-station Bangkok. Iki menunjukkan kepemimpinannya, kami hanya bisa mengikuti dari belakang. Dia memesan taxi menuju hotel yang belum kami ketahui tempatnya. Bermodal selembar kertas hasil prin-prinan yang diberikan hotel tersebut.

Kami langsung menuju meja resepsionis ketika baru-baru aja menginjakkan kaki dhotel. Badan kami sudah tak sabar untuk dibaringkan dikasur empuk ala khas hotel.

Masalah hobi sekali menghampiri kami. Penjaga resepsionis menjelaskan kepada kami kalau kamar yang kami pesan sudah ditempati tamu lain. Iki, sekali lagi orang yang paling depan menjelaskan bahwa kami sudah memesan via online. Iki memang lebih unggul dalam hal komunikasi dan negoisasi disbanding lainnya, termasuk aku.

Iki menghampiri kami sambil menjelaskan apa yang sedang terjadi. Pihak hotel sudah meminta maaf dan berjanji menganti dengan level satu tinggat di atas yang kami pesan sebelumnya.

Dan benar, baru memasuki kamar, fasilitasnya sangat lengkap. Ada AC, TV, dan kamar mandi bath up.

“kita besok aja jalannya. Sekarang istirahat dulu. Kayaknya ada kolam renang di lantai dua.” Kata iki sambil membongkar pakaiannya.

“kemana besok ki? Mending ntra malam kita jalan-jalan aja”

“besok kita naik kapal, melihat indahnya kota Bangkok dari sungai. Trus ke patung budha tidur, ke candi. Rame lah pokoknya.”

Setelah mendengar rencana perjalanan panjang untuk besok, semuanya langsung mengistirahatkan badan. Karena ini juga mengiyakan untuk jalan-jalan menikmati suasana malam kota Bangkok. Tujuan kami ke hard rock cafei, dank e mall tongkrongan anak muda yang dilengkapi museum lilin yang hanya ada beberapa di dunia.

*bersambung