Selamat datang!!

Selamat Datang digubuk Rahmeen yang sederhana ini, Selamat membaca ^_^

Pilih Kategori

Selasa, 25 November 2014

wanita tua-ku

Dari sederet wanita yang ada di dunia ini, hanya ada seorang wanita yang suka mengatur dalam hidup-ku. Kurang lebih 21 tahun, penulis hidup dalam aturan-nya. Dari hal yang (wanita ini rasa) penting sampai yang gak penting sama sekali. Agak sedikit kasar kah penulis bilang seperti itu? Silakan nilai sendiri setelah kalian membaca aturan yang (dia anggap) paling benar itu.

Penulis lahir disebuah kampung atau desa salah satu kota di Kalimantan selatan. Sama seperti anak-anak remaja se-usia-ku waktu itu, 13 tahun, kebebasan adalah hal yang wajib dalam menjalani kerasnya kehidupan anak remaja. Berikut aturan-aturan tersebut :

Pasal 0

“Jangan nyewa main PS dirental.”

Aturan perdana yang penulis dapatkan ketika berumur 8 tahun. Main PS adalah kebahagian tersendiri yang mengisi masa kecil-ku. Secara diam-diam penulis main PS bersama teman-teman seumuran atau yang lebih tua kalau ada. Baku pukul siap sedia menjadi hadiah ketika ketahuan ibu-ku main PS. Pernah sekali, sungguh sakit pukulan ibu-ku ini. Mau nyoba? Segera hubungi tukang pijet langanan-mu.

Pasal 1

“ Jangan sampai main dirumah orang seharian penuh, dan jangan sampai makan dirumah orang.”

Sering kali penulis ditelpon disuruh pulang ketika lagi asik-asik-nya main dirumah teman. Perasaan malu sering muncul, kenapa hanya penulis yang diperlpenuliskan seperti itu?. Pernah penulis main sampai jam 2 siang, kala itu orangtua teman-ku sudah menyiapkan makan siang buat tamu, penulis dan beberapa teman-ku. Tiba-tiba ada telpon dari ibu-ku.

“Aulia, cepat pulang. Ini ibu sudah masakin makanan kesukaan-mu. Jangan makan dirumah orang.”

(sangat) terpaksa minta ijin ke teman-teman untuk pulang dengan alasan yang ku buat-buat untuk menghindari rasa malu.

Pasal 2

“Dilarang merokok dan pulang malam, apalagi nginep dirumah orang.”

Pernah penulis tak bisa masuk rumah gara-gara pulang jam 10 malam ke atas, terpaksa tidur diteras. Ada satu hal yang mungkin terdengar cukup menggelitik, sangat sering di setiap penulis pulang baik itu main dirumah teman maupun baru pulang dari sekolah selalu di cek atau di endus-endus mulut dan baju. Buat apa? Tuh kan kalian nanya. Tujuan-nya, apakah penulis barusan ngerokok atau tidak. Lihat teman-teman-ku ngerokok bebas ketika nongkrong, meski hanya secara diam-diam dari orangtua mereka atau secara terang-terangan kalau berani.

Pasal 3

“No pacaran, No sms-an di atas jam 10 malam, apalagi telponan.”

Hemat kata, Pembunuhan karakter remaja, inti dari pasal 3. Kata remaja harusnya dimengerti bagi kalangan orangtua. Orangtua seharusnya tak kaget kalau masa remaja itu identik dengan cinta monyet. Sebuah rasa yang tak bisa disimpan, pasti tumbuh pada setiap remaja. Cinta, suka, dan sayang. Anda bisa bayangkan apabila remaja tak merasakan itu semua? Abnormal, segera bawa dia ke psikolog. Rasa cinta bukanlah pelangggar tapi naluri.

Pernah penulis ditanyain banyak hal ketika ketahuan telponan pas dirumah. Pernah juga penulis mendapat ceramah ketika masih sms-an di atas jam 10 malam. Pernah penulis gugup keringat dingin ketahuan tetangga dekat rumah ketika lagi jalan-jalan bersama pacar.

sering ak telponan sembunyi-sembunyi di belakang rumah, sering penulis pura-pura tidur ketika ibu-ku masuk ke kamar untuk mengecek dua anak laki-laki-nya dan sering pula penulis jalan dengan pacar tanpa sepengatahuan ibu.

Pasal 4

“Tidak boleh jalan terlalu jauh, apalagi keluar kota.”

Satu per satu ajakan teman untuk jalan-jalan (terpaksa) penulis tolak. Bahaya kalau dalam sehari tidak ada kabar. Rasa takut terjadi hal-hal yang membahayakan penulis menjadi alasan aturan ini dibuat ibu-ku. Iya, rasa sayang seorang ibu sangat terasa disini. Namun, ahhh…. Aturan macam apa ini? Aturan ini hanya aktif pada penulis. Tengok teman-teman-ku mereka bebas, tak terkekang, sungguh indah kehidupan mereka.

Ha ha ha, semua aturan itu hari demi hari tak bisa berlaku lagi terhadap penulis. Apalagi ketika penulis memutuskan untuk menjadi anak kos di Kota Malang. Jauh dari orangtua mengakibatkan pasal-pasal di atas menjadi non-aktif. Ibu-ku sudah mulai terbuka hati untuk tidak mengekang penulis dalam beraktivitas. Meski terlihat agak terpaksa, penulis yakin akan terbiasa.

Pasal tambahan

“jangan pacaran sama orang jawa.”

Sekarang penulis tinggal dimana? Sekarang penulis kuliah dimana? Sekarang teman-teman penulis kebanyakan orang mana?. Jawa kan?. Sudah tau seperti itu, kenapa peraturan yang menyayat hati ini disahkan ibu-ku.

Jelas aku punya teman dekat orang jawa, tidak aneh kalau aku pacaran sama orang jawa. Beberapa wanita pernah dekat dengan-ku, nyaris semua aku jauhin gara-gara cerita ke ibu-ku dan tak direstuin.

Bukan mereka tak cantik, bukan mereka tak baik, bukan karena keadaan apapun, tapi aku merasa mereka tak bisa meluluhkan hati ibu-ku. Aku rasa mereka tak bisa melobi ibu-ku untuk membatalkan pasal tambahan.

penulis suka gadis jawa, sangat suka. Apalagi wajah-nya jawa banget atau jawa classic sebuatan dari-ku untuk gadis seperti itu. Penulis juga punya keyakinan, akan tiba waktu-nya ada seorang wanita yang bisa meluluhkan hati ibu-ku. Entah kapan itu, dia akan ‘memaksa’ ibu-ku menghapus peraturan-nya sendiri.

Saya punya rencana : Kalau bertemu wanita seperti ini, akan ku usahakan dengan serius untuk mendapatkannya. Akan ku buang kebiasaan buruk-ku, akan ku lakukan semua hal yang bisa membuat dia mau bersama-ku. Ku bawa kucuran keringat yang nanti menjadi bukti aku bersungguh-sungguh mengusahakan wanita ini menjadi pendamping penulis.

 

DSC_9784

Saya punya impian : seandainya penulis terlahir kembali di dunia ini, sungguh, oh Tuhan, jadikan-lah hamba anak dari ibu ini, dengan segala aturan pasal-nya tadi. Apapun itu, penulis hanya ingin ibu ini.

wanita tua-ku

Dari sederet wanita yang ada di dunia ini, hanya ada seorang wanita yang suka mengatur dalam hidup-ku. Kurang lebih 21 tahun, penulis hidup dalam aturan-nya. Dari hal yang (wanita ini rasa) penting sampai yang gak penting sama sekali. Agak sedikit kasar kah penulis bilang seperti itu? Silakan nilai sendiri setelah kalian membaca aturan yang (dia anggap) paling benar itu.

Penulis lahir disebuah kampung atau desa salah satu kota di Kalimantan selatan. Sama seperti anak-anak remaja se-usia-ku waktu itu, 13 tahun, kebebasan adalah hal yang wajib dalam menjalani kerasnya kehidupan anak remaja. Berikut aturan-aturan tersebut :

Pasal 0

“Jangan nyewa main PS dirental.”

Aturan perdana yang penulis dapatkan ketika berumur 8 tahun. Main PS adalah kebahagian tersendiri yang mengisi masa kecil-ku. Secara diam-diam penulis main PS bersama teman-teman seumuran atau yang lebih tua kalau ada. Baku pukul siap sedia menjadi hadiah ketika ketahuan ibu-ku main PS. Pernah sekali, sungguh sakit pukulan ibu-ku ini. Mau nyoba? Segera hubungi tukang pijet langanan-mu.

Pasal 1

“ Jangan sampai main dirumah orang seharian penuh, dan jangan sampai makan dirumah orang.”

Sering kali penulis ditelpon disuruh pulang ketika lagi asik-asik-nya main dirumah teman. Perasaan malu sering muncul, kenapa hanya penulis yang diperlpenuliskan seperti itu?. Pernah penulis main sampai jam 2 siang, kala itu orangtua teman-ku sudah menyiapkan makan siang buat tamu, penulis dan beberapa teman-ku. Tiba-tiba ada telpon dari ibu-ku.

“Aulia, cepat pulang. Ini ibu sudah masakin makanan kesukaan-mu. Jangan makan dirumah orang.”

(sangat) terpaksa minta ijin ke teman-teman untuk pulang dengan alasan yang ku buat-buat untuk menghindari rasa malu.

Pasal 2

“Dilarang merokok dan pulang malam, apalagi nginep dirumah orang.”

Pernah penulis tak bisa masuk rumah gara-gara pulang jam 10 malam ke atas, terpaksa tidur diteras. Ada satu hal yang mungkin terdengar cukup menggelitik, sangat sering di setiap penulis pulang baik itu main dirumah teman maupun baru pulang dari sekolah selalu di cek atau di endus-endus mulut dan baju. Buat apa? Tuh kan kalian nanya. Tujuan-nya, apakah penulis barusan ngerokok atau tidak. Lihat teman-teman-ku ngerokok bebas ketika nongkrong, meski hanya secara diam-diam dari orangtua mereka atau secara terang-terangan kalau berani.

Pasal 3

“No pacaran, No sms-an di atas jam 10 malam, apalagi telponan.”

Hemat kata, Pembunuhan karakter remaja, inti dari pasal 3. Kata remaja harusnya dimengerti bagi kalangan orangtua. Orangtua seharusnya tak kaget kalau masa remaja itu identik dengan cinta monyet. Sebuah rasa yang tak bisa disimpan, pasti tumbuh pada setiap remaja. Cinta, suka, dan sayang. Anda bisa bayangkan apabila remaja tak merasakan itu semua? Abnormal, segera bawa dia ke psikolog. Rasa cinta bukanlah pelangggar tapi naluri.

Pernah penulis ditanyain banyak hal ketika ketahuan telponan pas dirumah. Pernah juga penulis mendapat ceramah ketika masih sms-an di atas jam 10 malam. Pernah penulis gugup keringat dingin ketahuan tetangga dekat rumah ketika lagi jalan-jalan bersama pacar.

sering ak telponan sembunyi-sembunyi di belakang rumah, sering penulis pura-pura tidur ketika ibu-ku masuk ke kamar untuk mengecek dua anak laki-laki-nya dan sering pula penulis jalan dengan pacar tanpa sepengatahuan ibu.

Pasal 4

“Tidak boleh jalan terlalu jauh, apalagi keluar kota.”

Satu per satu ajakan teman untuk jalan-jalan (terpaksa) penulis tolak. Bahaya kalau dalam sehari tidak ada kabar. Rasa takut terjadi hal-hal yang membahayakan penulis menjadi alasan aturan ini dibuat ibu-ku. Iya, rasa sayang seorang ibu sangat terasa disini. Namun, ahhh…. Aturan macam apa ini? Aturan ini hanya aktif pada penulis. Tengok teman-teman-ku mereka bebas, tak terkekang, sungguh indah kehidupan mereka.

Ha ha ha, semua aturan itu hari demi hari tak bisa berlaku lagi terhadap penulis. Apalagi ketika penulis memutuskan untuk menjadi anak kos di Kota Malang. Jauh dari orangtua mengakibatkan pasal-pasal di atas menjadi non-aktif. Ibu-ku sudah mulai terbuka hati untuk tidak mengekang penulis dalam beraktivitas. Meski terlihat agak terpaksa, penulis yakin akan terbiasa.

Pasal tambahan

“jangan pacaran sama orang jawa.”

Sekarang penulis tinggal dimana? Sekarang penulis kuliah dimana? Sekarang teman-teman penulis kebanyakan orang mana?. Jawa kan?. Sudah tau seperti itu, kenapa peraturan yang menyayat hati ini disahkan ibu-ku.

Jelas aku punya teman dekat orang jawa, tidak aneh kalau aku pacaran sama orang jawa. Beberapa wanita pernah dekat dengan-ku, nyaris semua aku jauhin gara-gara cerita ke ibu-ku dan tak direstuin.

Bukan mereka tak cantik, bukan mereka tak baik, bukan karena keadaan apapun, tapi aku merasa mereka tak bisa meluluhkan hati ibu-ku. Aku rasa mereka tak bisa melobi ibu-ku untuk membatalkan pasal tambahan.

penulis suka gadis jawa, sangat suka. Apalagi wajah-nya jawa banget atau jawa classic sebuatan dari-ku untuk gadis seperti itu. Penulis juga punya keyakinan, akan tiba waktu-nya ada seorang wanita yang bisa meluluhkan hati ibu-ku. Entah kapan itu, dia akan ‘memaksa’ ibu-ku menghapus peraturan-nya sendiri.

Saya punya rencana : Kalau bertemu wanita seperti ini, akan ku usahakan dengan serius untuk mendapatkannya. Akan ku buang kebiasaan buruk-ku, akan ku lakukan semua hal yang bisa membuat dia mau bersama-ku. Ku bawa kucuran keringat yang nanti menjadi bukti aku bersungguh-sungguh mengusahakan wanita ini menjadi pendamping penulis.

 

DSC_9784_thumb[6]

Saya punya impian : seandainya penulis terlahir kembali di dunia ini, sungguh, oh Tuhan, jadikan-lah hamba anak dari ibu ini, dengan segala aturan pasal-nya tadi. Apapun itu, penulis hanya ingin ibu ini.

Senin, 24 November 2014

Arti sebuah lagu

Apa arti hidup tanpa music?

Jika pertanyaan itu diberikan kepada kalangan muda, heh (tersenyum kecup) jawabannya mudah sekali ditebak.

“ Jelas akan terasa hambar.”

“aku tak bisa hidup tanpa music.”

“setiap waktu aku membutuhkan music.”

Dan sejak kapan kamu mengenal music?

Medengar pertanyaan ini, teringat pertama kali penulis mengenal music. Tidak terlalu dramatis sih, kala itu ibu-ku memberikan hadiah karena aku berprestasi disekolah, sebuah VCD.

Dan hari itu tidak hanya ibu-ku saja yang lagi berbaik hati. Aku harus berterima kasih juga kepada si penjual. Si penjual memberikan sebuah CD gratis sebagai hadiah dari pembelian VCD. Betapa senangnya hati seorang anak kecil kala itu.

Sepulang dari pasar, penulis mencoba membaca cover depan CD tersebut. Tertulis Sheila on 7 lengkap dengan foto ke-5 personilnya. Dibawahnya tertera beberapa judul lagu hits dijaman itu seperti seberapa pantas, shepia, dan sehabat sejati.

Untuk ukuran anak usia 9 tahun, lagu itu cukup sulit untuk dimengerti. Namun, bukannya penulis bingung dengan lirik lagu itu, tapi….

“Aku suka.”

Sebuah kata yang menggambarkan isi hati-ku ketika pertama kali mendengar lagu 507. Lagu tersebut, sebut saja lagu pemberian penjual VCD, selalu aku ulangi dan terus aku ulangi.

Terima kasih penjual VCD karena sudah mengenalkan-ku pada lagu 507 yang sampai sekarang (usia 21 tahun) tetap menyukai-nya.

Beberapa tahun kemudian, seorang gadis mungil mengulangi kejadian beberapa tahun yang lalu. Pertemuan yang mungkin sudah direncakan Tuhan.

“Aku suka sebuah lagu dari sebuah band, Letto. Judul lagu itu Sandaran Hati. Kamu suka kah Au dengan lagu itu?”

Sebuah obrolan via sms yang tidak aku jawab kala itu.

“Amelia sangat sukaaaaa.” Sambungnya dengan sangat menggebu-gebu.

Aku juga tak mengerti dengan jalan pikiran anak se usia 12 tahun. Beberapa hari setelah kejadian di sms itu, aku membeli sebuah CD. Namun kali ini di cover depan tertulis Letto lengkap dengan ke-4 personilnya. Dibawahnya tertera beberapa judul lagu hits dijaman itu seperti ruang rindu, dan sandaran hati.

Dan sekali lagi …

“Aku suka.”

Sebuah lagu yang lirik-nya cukup ringan dengan music pop membuat anak berumur 12 tahun selalu mengulangi dengan sumringah. Judul lagu itu, Sandaran hati.

Saking sukanya, aku memasang NSP sandaran hati di nomer hape-ku. Ku beritahukan hal itu ke Amelia dengan hati yang berbunga-bunga. Dan setelah kejadian itu, Amelia lebih sering menelpon ke nomer-ku. Sekedar Miss Call lebih tepatnya, he he. Hanya untuk mendengar lagu itu, sebelumnya dia pernah bilang

“nanti kalau aku nelpon jangan diangkat ya Au, aku mau dengerin NSP kamu.”

Terima kasih gadis mungil, Amelia, sudah mengenalkan sebuah lagu. Kamu memang orang yang tepat buat mengenalkan lagu itu kepada-ku, tentu di waktu yang pas pula. Kalau orang lain, tak akan menjadi memori seperti sekarang ini.

Di tahun 2011, suatu hal terjadi karena keterpaksaan. Namun dari keterpaksaan inilah cerita itu berawal. Awal untuk mengulang kejadian beberapa tahun yang lalu.

Penulis mendapat hadiah tiket konser sebuah band dari 3 orang teman. Band yang kala itu belum aku kenal sama sekali namanya. Dan yang mengajak-ku kala itu bernama Paramita. Mereka sebenarnya ber-4, karena alasan tertentu kemudian dia digantikan, oleh aku. Mungkin kalau bukan dia yang ngajak, penulis akan mikir dua kali untuk ikut. Tanpa pikir panjang aku ikut saja dengan dia.

Masih tersimpan dalam memori penulis, dalam perjalanan hujan mengguyuri kami berdua. Kebetulan kedua temannya Paramita sudah duluan. Kami sampai dengan baju dan celana yang menyatu dengan air. Babahno, kami tetap melangkah. Sungguh keterpaksaan.

Dingin sudah merajalela kesekujur tubuh-ku.

“Vierra…..” kata itu terucap dari mulut MC di atas panggung.

Aku tak tahu band mana itu, 4 personil dari Vierra keluar. Penonton menyambutnya dengan berdiri atau ada yang berteriak histeris atau merekamnya kalau bawa kamera.

Terlalu lama, sebuah lagu yang dinyanyikan vocalis Vierra yang membuat tubuh ini hangat ketika mendengarnya. Sebenarnya aku tak tahu judul itu sebelum diberitahu teman-ku, Paramita.

Terima kasih Paramita, sudha mengenalkan sebuah lagu dengan genre baru ditelinga-ku. Dan tentu penulis lebih berterima kasih untuk malam yang indah ini. So nice J

Setahun kemudian, aku mendapat seorang teman yang boleh dikatakan tidak terlalu baru atau tidak terlalu lama. Penulis mengenalnya di tahun 2011, namun kejadian ini ketika akhir tahun 2012.

Seorang gadis yang ku temui kala itu terlihat galau. Galau karena apa itu? Maaf tak bisa penulis ceritakan. Sungguh menarik jalan dengan orang seperti dia. Selalu ada perdebatan ketika mengobrolkan hal yang ringan. Sangat mudah untuk akrab dengan-nya, dia cerita banyak hal yang sampai sekarang tak kumengeri, kenapa diceritakan kepada-ku hal privasi seperti itu?

Lagi dan lagi, seseorang memberikan penulis sebuah lagu. Kali ini terlihat dia sangat berniat agar penulis mendapat rasa dari lagu itu.

“Mas Au, aku ada lagu nih. Bagus untuk di dengar.” Kata-nya via bbm yang dilanjutkan dengan mengirim file lagunya.

Sampai sekarang dia memanggil-ku dengan embel-embel mas. Ku tengok saja file yang baru saja dia kirim . Fall for you – secondhand serenade, begitu yang tertera pada file tersebut. Aku hanya bisa tersenyum kecup sambal menunggu transfer selesai.

Setelah selesai, penulis play, sungguh gadis ini membuat-ku galau membisu. Aku hanya terdiam, tak berkomentar apa pun dengan lagu itu. Namun entah mengapa sering ku puter berulang-ulang kali.

Terima kasih Titia, meski lagu-nya tak begitu ku suka, namun hmmm… penulis selalu terbawa rasa ketika mendengarnya.

Terakhir ada beberapa photo untuk orang-orang yang baik hati di atas, kecuali si penjual VCD, hehe. Penulis susun secara acak, silakan tebak namanya.

Ms. X

Ms. X

Ms. X

Sabtu, 15 November 2014

20:14

Kadang aku suka, kadang aku gak suka.

Kadang aku sayang, kadang tidak, sering pula aku sangat sayang.

Kadang aku memperhatikan, terkadang aku acuh.

Kadang rasa-ku tumbuh, sering juga layu.

Kadang aku galau, kadang-kadang aku bahagia.

Kadang aku merindu, sering juga aku tak merasakannya.

Kadang aku menunggu kehadiran-mu, kadang aku suka sendiri.

Kadang aku terluka, sering tak sengaja melukai.

Kadang aku memahami, kadang-kadang aku mau dipahami.

Kadang aku mendekat, sering pula aku menjauh.

Kadang aku berbicara, kadang aku hanya ingin mendengar.

Kadang aku menyapa, sering aku menunggu sapaan.

Kadang aku berbeda, kadang sama.

Kadang aku sebagai pacar, kadang aku sebagai teman.

Kadang aku berharap, sering pula berputus asa.

Kadang aku berhenti, kadang-kadang ingin melangkah.

Kadang aku mau ungkapkan, selalu tak jadi.

Kadang aku mau merangkul, kadang aku mencium.

Kadang aku mau melupakan, kadang aku teringat sepintas.

Kadang aku lapar, kadang aku merasa kamu juga lapar.

Kadang aku mengiringi, namun sering aku berbelok.

Terkadang aku merasakan cinta, cinta yang sangat besar kepada-mu. Kadang pula aku tak merasakan apa-apa terhadap kamu. Terkadang aku sangat naif, sanagt ingin memiliki-mu, namun sering pula aku rasa tak butuh memiliki-mu. Terkadang aku mau menyatakan perasaan kepada-mu, sering pula aku merasakan itu semua tak perlu, baik bagiku maupun bagimu. Kadang rasa sayang-ku tumbuh drastis tiap waktu-nya, kadang pula tiba-tiba mati rasa kepada-mu. Terkadang aku kasmaran, selalu mau bersama-mu, selalu disisi-mu, selalu ingin mendengar kabar tentang-mu. Sering juga aku tak mau tahu atau hanya sekedar tahu.

For You, pukul 20:14 WIB

Senin, 03 November 2014

kamar ratapan

IMG00760-20111212-1518Tak mampu lagi aku memendam perasaan ini. Duhai nona-ku, sudah sepantasnya kamu tau isi hati ini. Dengar, jatuh cinta, itu pernah terjadi pada perasaan-ku terhadap seorang wanita. Termasuk juga kau, nona. Sungguh, aku mencintai-mu. Sejak kapan aku mencintaimu? Apa alasan aku mencintaimu? Lupakan hal itu. Disini aku mau mengungkapkan sesuatu untuk diri-mu.

Kamu, nggak, apa jadinya jika hari-harimu tanpa aku? Bagaimana hari-hari-mu ketika tak ada aku disisi-mu? Cerikan pada-ku ketika aku tak ada kabar dalam sehari bahkan lebih!?. Sepertinya kamu tetaplah nona yang mampu bahagia, mampu menjalani semuanya meski tanpa aku.

Andai nona memikirkan ini, tentu nona sadar, noan tak memerlukan aku lagi. Dengan atau tanpa aku, semua terlihat sama di mata-ku. Nona sangat mandiri, apapun bisa dilakukan nona sendiri, mubazir rasanya kalau aku ikut campur dalam hal apa pun dalam kehidupan nona. Aku hanya menjadi pengiring saja, tak lebih atau hanya pengganggu yang selalu ingin bersama-mu.

Sebuah perasaan tak dibutuhkan mulai muncul, aku mulai meratapi ini dalam kamar kecil-ku, bahkan terus menyebar di hati ini. Aku, sebagai seorang lelaki, pasti bahkan sangat ingin dibutuhkan oleh wanita, terutama wanita yang ku sukai. Namun itu tak terjadi nona. Kamu, selalu bisa melakukan semua hal, dimana aku bisa saja hadir membantu. Kalau aku tak mau membantu, sebenarnya bukan aku tak mau, aku memang tak bisa melakukannya. Mau sok bisa dihapadan kamu, maaf aku bukan tipe orang seperti itu.

Menjadi orang dibutuhkan itu yang ku mau, tapi tak kudapatkan pada nona. Apa ada aku yang lain, nona? Tidak, aku mulai paham nona, hal seperti itu tak perlu dipermasalahkan. Itu bukan nona.

Tahu kah kamu, betapa bahagianya kalau kita merasa dibutuhkan, sungguh membahagiakan hati. Bukan aku tak bahagia kalau disamping nona, tapi semisal ketika aku digantikan oleh aku yang lain, apa ada yang berubah? itu tak akan membuat perbedaan dalam hari-hari nona. Bahkan tanpa aku yang lain, sendiri, nona tetaplah nona yang begitu, noan yang mudah melakukan apapun. Apa pengaruh kehadiranku dalam perjalanan hidup nona?. Sial, sepertinya bukan jodoh-ku.

Aku akui, Jujur saja, akan lebih baik jika berada disamping wanita yang benar-benar membutuhkan-ku. Dimana, memayungi hari-hari-mu akan menjadi sebuah kebahagian dan kebanggaan oleh jiwa. Walau itu membuat aku tertatih. Sekarang, bagaimana aku bisa berada disamping wanita yang tak membutuhkanku. Meski aku masih bisa tersenyum atau tertawa , perasaan bukan untuk dipercandakan.

Akan Ku bingkai semua impian ini  dalam kamar kacik-ku, agar kamu tak melupakan-ku yang pernah mengiringi sebagian kisah hidup-mu.

Senin, 27 Oktober 2014

Just a song

 

IMG20141026214335Ku tak percaya kau ada disini

Menemaniku di saat dia pergi

Sungguh bahagia kau ada disini

Menghapus semua sakit yang kurasa

 

 

 

 

IMG20141026221741Mungkinkah kau merasakan

Semua yanga ku pasrahkan

Kenanglah kasih…

 

 

 

 

 

IMG20141027015121Ku suka dirinya, mungkin aku sayang

Namun apakah mungkin, kau menjadi milikkku

Kau pernah menjadi, menjadi miliknya

Namun salahkah aku, bila ku pendam rasa ini.

Senin, 20 Oktober 2014

Menunggu di air keruh

IMG_20141019_162906Sudah dua hari belakangan ini teman-teman kos-ku mengajak aku untuk pergi memancing, namun aku urung mempunyai waktu luang untuk ikut memancing atau sekedar melihat-lihat indahnya sungai dengan beratap langit biru.

“Ayo, berangkat mincing!”

“ ajak Mas Au juga.”

“Ah.. gak usah. Paling dia gak bisa.”

Terdengar suara sayup dari luar kamar-ku. Aku termasuk orang yang susah di ajak keluar oleh teman-teman kos-ku. Terlalu asik dengan dunia-ku sendiri, mungkin.

Sore itu atau bisa dibilang setiap sore biasanya aku tidur. Sebenarnya itu bukan kehendak dari aku tapi tubuh ini meminta dan tak mau pisah kalau sudah ketemu Kasur atau guling kalau ada.

Aku bermaksud meluangkan waktu untuk teman-teman kos-ku atau sahabat-ku lebih tepatnya. Hari yang ku mau pun tiba, di hari minggu sore itu, setelah aku menunggu sesuatu yang masih hati ini pertanyakan apakah pantas ditunggu, pusing juga menggambararkannya.

“Ayok Mas Au, kita berangkat sekarang.”

Suara itu terdengar lagi dari luar kamar-ku tepat jam 15.01 wib.

“Ayok Au, ntar kita gak bisa lama-lama disana.”

Aungan suara datang lagi dari orang yang berbeda 10 menit kemudian.

“Iya, duluan ajaaaa…. Nanti aku nyusuuuuul.”

Teriakan-ku mungkin cukup untuk membangunkan satu kapmung untuk sahur saat bulan Ramadhan. Ada apa dan tak tahu kenapa, lidah ini terasa berat untuk mengiyakan ajakan teman-ku untuk beranjak dari kos.

Dari dalam kamar, aku mendengar sebuah suara motor beranjak dari parkiran kos lalu disusul oleh suara motor lainnya.

“keliatannya mereka sudah berangkat.” Aku mencoba untuk memvalidasi suara motor tadi ke diri-ku sendiri.

Aku mencoba tak menghiraukan apa kata hati ini. Namun aku tak tahu apa yang harus ku lakukan untuk saat ini. Bingung.

15 menit kemudian,

“ krikkrikkrik.”

Seperti pepatah, “menunggu di air keruh”.

“Jangan menunggu di air keruh Au.”

Pukul 15.40 wib

“aku mesti tetap di kos.”

Pukul 15.50 wib

“sabar, aku harus berada di kos.”

Pukul 16.00 wib ,

aku sudah berada disebuah tempat yang ramai, orang-orang terlihar sangat ceria dengan memegang suatu alat pancingan. Beragam-ragam jenisnya, ada yang hanya terbuat dari bamboo apa adanya atau pancingan yang sering kita liat di acara tv terang7 “ Sunting mania, Mantaaappp!!”.

Hanya beberapa langkah aku menemukan teman-teman-ku sedang asik dengan pancingan mereka.

“ bos, sorry telat.”

“ he Mas Au datang.” Teriak salah seorang teman-ku. Seperti ada sebuah yang wow ketika aku muncul dihadapan mereka.

“boleh aku mencobanya bos?”

Kelihatannya aku mulai tak sabar.

“nih lihat, kita sudah dapet 5 ekor ikan Au.”

“4 ekor ikan bawal, 1 ekor Mas.” Tambah teman sebelah-ku.

“aku yang dapet ikan mas itu, Au.” Teriak salah satu teman-ku. Terlihat dia sangat menggebu-gebu dengan teriakkannya meski kami berdekatan.

“aku yang pertama strike tadi Mas Au.”

“ikan bawal yang besar itu punya-ku Mas Au.”

Mereka mulai bersahutan dengan sombongnya.

Aku mulai diajarin teman-ku bagaimana cara melempar pancingan, ternyata susah juga. Susah karena sekarang aku mesti merubah kebiasaan-ku yang dulu. Kebiasaan menggunakan pancingan bambu yang sering aku gunakan ketika masih berusia belasan tahun.

Dengan seketika aku mulai terbiasa, memang sesuatu yang baru mengharuskan kita untuk belajar memahaminya.

Pukul 16.40 wib

Belum ada ikan yang nyangkut dipancinganku.

IMG_20141019_162932Pukul 16.50 wib

Aku merasakan tarikan yang sangat kuat dari pancingan-ku. Aku seperti terkaget karena ini pertama kalinya sejak tadi.

“tarik Au, pasti dapat.”

Teman-teman-ku memberitahuku kalau ikan sudah memakan umpan.

Aku mencoba menariknya, dan akhirnya …. Ccsssshhhhh…

Aku melihat kail yang kosong.

“sial!!! Aku kena PHP.”

Aku mulai mengumpat, hari ini memang membuat aku frustasi. Ahhhhhkkkk….“kesabaran-ku di uji weekend kali ini. Menunggu.”

Pukul 17.05 wib

Ada satu hal yang bisa aku lakukan ketika apa yang kita tunggu tak kunjung hadir. Berpindah. Berpindah ketempat lain yang lebih menjanjikan.

Pukul 17.10 wib

Aku seudah berada di sebuah kolam yang sepi , tepat disebelah kolam sebelumnya. Namun terlihat sepi, ini akan memberikan peluang yang lebih besar daripada kolam tadi, mungkin, kita coba saja.

“tak ada yang salah dengan mencoba kan?.”

Pukul 17.11 wib

Krikkrikkrik

Pukul 17.15 wib

Karyawan penjaga kolam ikan sudah meminta untuk segera menimbang hasil timbangan dan membayarnya dikasir. Sebuah pertanda kalau kolam ini segera tutup dan mengharuskan aku pulang tanpa mendapatkan satu ekor ikan pun.

Pukul 17.20 wib

Semua alat pancing sudah dirapikan, tinggal satu yang sedang aku pegang, iya ini yang terakhir yang sadang ditunggu tn-teman-ku.

Pukul 17.21 wib

Tekanan semakin besar, kolam sudah seharusnya tutup, iya, sepertinya aku terlalu memaksakan.

Pukul 17.22 wib

“berpindah ke tempat baru yang lebih menjanjikan tak selalu akan memberikan perbedaan seperti harapan kita. Ekspestasi harapan yang telalu tinggi malah akan membuat kita menengok ke belakang dan berpikiran lebih baik kembali ke tempat sebelumnya.” A.R

Pukul 17.23 wib

“ketika kita mengundang motivasi namun yang datang malah tekanan, apa yang mesti kita lakukan? Menunggu? Tak mungkin. Tak ada kesempatan lagi untuk menunggu.”

Ketika kesempatan untuk menunggu pun tidak ada,

maka….

IMG_20141019_165954Tunggu…

tunggu dulu…

aku merasakan sebuah tarikan…

iya ini tarikan dari seekor ikan…

senang bercampur gugup menguasai isi perasaan-ku. Namun adrenalin-ku hadir di waktu yang tepat. Dia memberikan-ku ketenangan, memberikan-ku ingatan tentang kegagalan sebelumnya, memberikan-ku cara bagaimana menghadapi tekanan ini.

Pukul 17.28 wib

Aku merasakan suatu perasaan puas menggebu-gebu, perasaan berhasil melewati berbagai tantangan, perasaan yang tak tergambar oleh apa pun.

“Aaaaaaaaaaaaaahhhhh… “ sebuah teriakkan yang menggambarkan perasaan-ku saat ini.

17.30 wib

IMG_20141019_165951STRIKEEE… COME BACK!!! STRIKTE di akhir-akhir injury time.

“menunggu boleh namun tak mutlak, gunakan adrenalin agar menemukan timing untuk berpindah.”

“seberapa besar usaha-mu, hadiahnya berkali-kali lipat dari itu.”

 

 

 

Sekian.