Selamat datang!!

Selamat Datang digubuk Rahmeen yang sederhana ini, Selamat membaca ^_^

Pilih Kategori

Sabtu, 13 Desember 2014

hikmah di balik kebosanan

 

Empat orang yang terdiri dari 2 mahasiswa dan 2 mahasiswi sedang asik nimbrung di pojok baris ketiga disuatu perkuliahan. Sudah menjadi kebiasaan kelas menjadi heboh dan tak focus kalau mata kuliah ini. Dosen-nya bak professor yang menjelaskan teorema tentang eksistensi angka dan symbol dalam kehidupan manusia. Untitled

Sedikit gambaran tentang dosen yang satu ini, orang-nya suka menulis dan minim bicara. Panggilannya Mr. Mar. Ketika menjelaskan, tak banyak yang memperhatikan Mr. Mar di depan kelas. Sungguh, kalian tak akan mengalami kesulitan menghitung mahasiswa yang sedang focus memperhatikan penyampaian dari beliau.

Tak terkecuali 4 orang tadi, mereka Adit, Amel, Almas, dan Iman tak sengaja duduk berdekatan hari ini (4/12). Almas, Iman dan amel berada dibaris ketiga, sedangkan adit ada dibelakang satu baris dari ketiga mahasiswa ini. Obrolan mereka terdengar ngeri, tentang skip-si. Wajarlah sudah sepatutnya mahasiswa seukuran mereka memperdebatkannya, walau tidak di waktu semestinya.

“eh, amel kata-nya sudah acc bab 1 kah?” iman menyerobot pertanyaan sambil berjalan menuju samping adit.

Sekarang posisi berubah. Baris ke-tiga tinggal Almas dan Amel. Iman berpindah ke baris 4 disebelah adit.

“oh, iyakah mel? Beneran kata iman?” suara respon ini datang dari sebelah Iman.

“oh iya dong. Kalian sudah nyampe mana?” Amel menjawab dengan nada sombong.

“masih berkutat dengan bab 1. Revisi lagi, lagi revisi.” Iman bergumam tak jelas.

“aku judul aja belum acc.” Sahut adit.

Terlihat almas yang sejak tadi menulis dan mencoba focus ke perkuliahan, merasa risih dengan obrolan ketiga teman-nya ini.

“kalian harus cepat ngerjain-nya. Harus punya target lah.”

“kamu rajin sekali mel sekarang, di luar dugaan.” Tutur Iman yang sedikit heran dengan Amel.

“ini demi masa depan, harus rajin.”

“eh dit, kamu balikan lagi ya sama endah itu?”

Iman mulai membahas hal lain. Di sisi lain, Almas mulai toleh-toleh, mengisyaratkan mau ikut nimbrung juga.

“iya man, kamu tau dari mana?”

“kamu ganti DP berdua dengan-nya kan di BBM? Selamat dit, mungkin itu jodoh kamu.”

“makasih man, ya semoga aja sampai nikah.”

“Apa sih kalian rame aja dari tadi.”

Almas mulai risih atau bisa juga ngasih isyarat mau ikut nimbrung.

“tau nih iman, malah bahas nikah-nikah aja.”

“bairin mel, kamu kapan nikah-nya mel? Pasti kamu pengen cepat-cepat lulus, gak kuat nahan lagi kan?”

“he he he, nanti man. Masih belum dibolehin nikah sama ibu.”

“kalau sudah waktu-nya, jangan ditunda-tunda lagi.” Sahut almas

Memang benar, nikah adalah salah satu tujuan hidup. Itulah alasan kenapa kita selama ini berjuang, berlari, menembus hujan, banting tulang dan belajar menerima kenyataan. Maka-nya wajar kalau kita pilih-pilih dalam pasangan yang akan dinikahi. Orang yang menjadi pilihan pantas disebut special.

“kamu gimana dit?”

Iman mencoba menarik kembali adit yang dari tadi terlihat mulai diam.

“ahh… aku sudah punya rencana man.”

“rencana gimana dit?”

Di depan, almas dan amel terlihat penasaran dengan pembicaran 2 cowok ini.

“rencana lulus bareng sama endah.”

Iya, endah merupakan mahasiswa seangkatan dengan mereka namun beda jurusan.

“gimana kalau gini dit, nanti pas kalian lulus bareng langsung nikahin dit.”

“Iman ini dari tadi omongannya nikah…nikah…nikah…” sahut almas

“iya, mbak al. padahal dia tuh yang nggak sabaran.” Amel ada dipihak mbak almas

“bener kata iman, kalau seumuran-ku sudah seharusnnya nikah. Aku 2 tahun lebih tua dari kalian.”

“kalau aku nggak dit, belum kepikiran nikah.”

“namanya juga belum punya kerjaan man, ya belum siap.”

Kepala amel masih saja ke arah belakang. seperti tak mau ketinggalan mendengarkan obrolan 2 cowok itu. Almas juga sesekali nengok ke belakang.

“bukan soal kerjaan dit, coba liat perjuangan hidup Habibi & Ainun. Mereka setelah menikah baru membangun rumah tangga, mencari pekerjaan, dan menata masa depan.”

“noh kan, nyambung ke pilem lagi iman ini.” Potong amel

“itu pelajaran mel, mereka menikah sebelum memiliki hidup yang mapan.”

“ahh… aku mesti kerja dulu man.” Sambung adit yang dari tadi emang kepikiran tentang nikah ini.

“kamu tadi kan punya rencana lulus bareng, gimana kalau lamarannya pas pak rector memindahkan tali toga dit, hihi.”

“di dome gitu ya man. Ha ha ha.” Amel mencoba menguatkan perkataan iman

“he he.” Mbak almas tersenyum dengan sedikit ketawa.

“iya tuh dit, jadi ribuan sarjana menjadi saksi kalian nanti.”

“terus kalau di tolak, mampuussssss!.” Tambah amel

Tak ada pikiran tentang perkuliahan, focus mereka sudah hanyut dalam obrolan. Terasa kelas milik mereka berempat.

“ ha ha. Bisa aja kalian. Tapi bagus tuh saran-mu man. Jadi nanti aku tunggu di samping rector endah-nya. Pas sudah nyampe, aku kasih cincin. Ha ha ha.”

“ ha ha ha.” Suara tawa menyatu dari 4 orang ini.

“pikirin dulu dit. Kalau ditolak taid gimana?” amel mengulang perteanyaannya lagi

Mereka jadi terdiam mendengar pertanyaan yang di ulang-ulang amel atau bisa juga mereka diam karena lagi memikirkan jawaban dari pertanyaan itu. Alasan pendukung lebih tepatnya.

“gini aja dit…”

Amel, almas, dan adit terperangah ke arah iman.

“gini, nanti kalian lulus barengya pas mulai Mei aja.”

“apa hubungannya man?” tanya amel.

“jadi nanti kalau di tolak, tinggal bilang aja, april moop…!! Surprise.

“ha ha ha.”

“Stttt…” tegur salah satu teman di depan.

Suara tawa mereka sampai kedengaran ke depan.

“stttt.” Almas memberikan kode kalau ketawa-nya kebesaran.

“bisa aja iman ini. Ha ha.” Amel tak bisa menahan tawa-nya untuk yang kedua kali.

“bisa tuh dicoba, april moop gitu ya man.” Adit mulai bisa tersenyum

“ha ha ha, gak salahnya kita berkhayal.”

Sekian. Terima kasih sudah mengiringi kisah dari Iman. Iman sekarang mau istirahat dulu. Kebetulan hari ini hari minggu. Capek habis jogging, eh, jajan doang tadi. Hihi.

Minggu, 30 November 2014

skip-si niat

Minggu ini cukup lucu, entah mengapa. Menguji kesabaran-ku. Mengharuskan-ku mengambil sisi baik dari kejadian ini. Skip-si, letih menyelesaikannya, jenuh memikirkannya. Namun sebuah kewajiban yang memaksa setiap civitas akademik dalam menyelesaikan studi sarjana-nya. Banyak cobaan dalam kisah skip-si minggu ini.

Senin

Niat-ku hari ini ingin menemui dosen pembimibing-ku. Seperti biasa pukul 13.00 atau molor sedikit karena ini endonesia. bimbingan kali ini sangat penting. Judul skip-si yang belum jelas, masih menggantung, pikir-ku. Lanjut atau berhenti atau menjalani tanpa kejelasan.

Perasaan optimis menemani setiap langkah-ku. Sesampai dikantor dosen pembimbing, kebetulan saat itu sepi. Tak ada antrian seperti pengambilan raskin atau pembelian premium atau boleh juga bantuan tunai dari pemerintah. tanpa basa-basi penulis langsung mencari beliau.

“Maaf mas, bimbingan-nya ditunda hari rabu.”

“oh.”

bagaimana perasaan penulis hari ini? Kecewa? Iya.

Selasa

Maaf, bukan jadwal bimbingan.

Rabu

Sedikit perubahan ku lakukan dalam judul skip-si beserta tambahan latar belakang yang masih abal-abal. Dalam perjalanan, terlihat wajah mahasiswa yang kebingungan. Dari jauh mereka terlihat sedang mengantri. Disiplin, sebuah etika yang penulis suka.

Aku mengakhiri langkah untuk masuk dalam antrian. Menulis nama-ku dalam daftar yang sudah sampai nomer 21.

“22. Aulia Rahman.” Tulis-ku.

Kebetulan waktu itu ada kenalan-ku yang sedang mengantri, dan meminta tolong kalau sudah dekat 22 untuk memberitahu. Bukan malas ngantri, kebetulan penulis sedang lapar. Cuma sedikit malas.

“Au cepat kesini.” 20 menit kemudian sms ini masuk.

Dengan tergesa-gesa menuju kantor, padahal saat itu penulis belum makan sama sekali. Tak apa lah, demi skip-si. Pandangan-ku terperangah ketika melihat mahasiswa yang sedang mengantri tadi menghilang. Sungguh diluar dugaan, cepat juga mereka bimbingan atau mereka kembali karena ragu.

Langsung menoros pintu dan masuk, ini kebiasaanku. Mata tertuju ke kiri dimana dosen pembimbing sedang bercakap-cakap dengan bawahan-nya.

“Pak, mau bimbingan.”

“Besok saja.”

Mendengar jawaban itu, penulis langsung balik kanan maju jalan. Tanpa ada sepatah kata apapun.

Satu kata sempat terucap sebelum meninggalkan kantor.

“oh.”

Kembali ke rencana awal-ku untuk mengisi perut yang sedang lapat atau pelampiasan?

bagaimana perasaan penulis hari ini?Kecewa? Iya.

Kamis

Tak ada pilihan selain melanjutkan perjuangan. Meski dalam tekanan. Penulis sampai lebih cepat dari biasa-nya. Kali ini penulis bisa dengan bangga menulis nama diurutan 11. Nice, sebuah kemajuan. Sebenarnya penulis bisa ke kantor lebih cepat namun ada kewajiban yang harus didahulukan.

Kali ini bukan lapar yang menggoyahkan niat mengantri, melainkan ngantuk. Harus menyiapkan materi ngajar, merevisi (sendiri) latarbelakang mengurangi waktu istirahat-ku.

Tak mungkin dipaksakan, penulis meninggalkan tempat antrian guna mengistirahatkan mata yang mulai merem melek dengan sendiri-nya.

30 menit berlalu, cukup atau kurang tidurnya? Ya begitulah. Penulis balik ke tempat antrian, syukurlah tidak kosong seperti kemarin. Antrian masih menjadi tontonan mahasiswa dan karyawan yang lalu lalang di kantor itu.

Antrian no.7 dari tidak selesai-selesai juga. Akhirnya, orang itu keluar dengan tersenyum, padahal ia membuat kami menunggu hampir satu jam. Arrrggghhh.

Orang itu memberitahukan kalau antrian 8,9, dan 10 untuk selakigus masuk. Kurang lebih 15 menit ketiga orang itu keluar dan membawa kabar kalau bapak-nya mau istirahat. Bimbingan dilanjutkan besok sabtu.

What!!

Jum’at

-Free memory-

Sabtu

Bosan. Lucu kalau hari ini gak bimbingan lagi. Dengan semangat pukul 10.00 penulis sudah berada dikampus untuk ngeprint skip-si, bab 1.

Tadi malam, dari pada tidak ada kerjaan penulis melanjutkan membuat rumusan masalah sampai manfaat penelitian. Dengan kata lain, bab 1 sudah kelar.

Pukul 12.00 penulis langsung menemui dosen pembimbing.

“Mas, bapak-nya ada?” tanya-ku ke tenaga part time dikantor tersebut.

“bapaknya dari pagi tidak ada kesini mas.”

Ini sungguh tidak bisa digambarkan lagi, kecuali lucu. Hari-hari belakangan ini memang sungguh lucu. Tuhan suka becanda.

akhir kata

“kecewa? Boleh. Namun jangan sampai merasa gagal.” A.R

Kamis, 27 November 2014

stand up teacher show

Rabu malam seperti biasa jadwal penulis ngasistensi praktikan di lab infokom. Ini bukan praktikum biasa. Para praktikan semester 7 jurusan pendidikan biologi, seangkatan dengan penulis. Ada yang penulis kenal, ada juga baru kenalan saat praktikum. Dan teman pesmaba juga ada.

Sudah menjadi kebiasaan-ku sebelum masuk ngasistensi belajar terlebih dahulu. Kira-kira beberapa jam sebelum show. Kebetulan materi malam ini membahas mengenai ANOVA (Analysis of Variance). Ini materi sudah penulis pelajari pada mata kuliah statistic inferensial. Beberapa tahun yang lalu. Lucunya untuk jurusan biologi pembahasannya tidak biasa. ANOVA dua jalur setingkat di atas ANOVA satu jalur yang pernah penulis pelajari.

Belajar,lalu memahami, harus, harus paham ANOVA dua jalur. Pukul 15.15 penulis ada jam kuliah, iya, gini-gini penulis rajin kuliah.

Sambil menyelam, minum air. Waktu tak memberi-ku kesempatan untuk tersenyum. Buku SPSS mendampingi perkuliahan penulis sore hari ini. Membagi perhatian, untuk pemateri yang sedang presentasi dan untuk buku SPSS yang sedang ku pengang erat di tangan kiri. Tidak ada waktu untuk mengeluh, menjadikan jam kuliah sebagai waktu untuk belajar adalah opsi terbaik.

Alhasil, penulis tak paham. Pemahaman tak cukup, penguasaan kurang mantap. Tak mungkin ku paksakan untuk menjadi pemateri pada praktikum kali ini. Yang lain saja-lah, beri asisten lain kesempatan.

Ketika para praktikan sudah duduk manis di kursi panas lab infokom. Penulis masih memikirkan cara agar tidak menjadi pemateri malam ini.

Denga sengaja penulis masuk agak sedikit telat (padahal sudah stay dari tadi di lab). Tujuan jelas untuk menghindari hal yang paling tidak di inginkan.

“Assalamu’alaikum wr wb, selamat malam…bla …bla …”. Terdengar suara cewek dari dalam lab sedang membuka praktikum malam ini. Nama beliau Bu Diani, instruktur praktikum. Yang memberikan instruksi ke para asisten.

“Seperti yang ku rencanakan, heh.”Aku pun memasuki lab. Dan benar praktikum sudah di mulai.

“akhirnya Mas Aulia datang juga, praktikan kangen katanya, malam ini mau Mas Aulia lagi yang menjelaskan.” Ucap Bu Diani di tengah-tengah kerumunan praktikan.

“tidak seperti yang ku rencanakan.” Kaki mulai terasa berat untuk melangkah. Seperit mau balik kanan dan keluar.

Tak apa. Nasib.

Ku hampiri Bu Diani, untuk mengatakan aku siap untuk malam ini. Tidak, kata-kata bijak macam apa yang sedang ku-ucapkan.

Aku ijin keluar sebentar, lari dari kenyataan yah. Beberapa menit kemudian terdengar suara cowok, itu Mas Reza, patner asisten-ku.

Akhirnyaaa… penulis mengelus-ngelus dada. Aman, Mas Reza sudah mulai mengambil alih pemateri malam ini dengan beberapa penjelasannya yang panjang lebar.

“yess… sudah di ambil alih.” Penulis masuk kembali ke dalam lab. Dengan suasana serius mendengarkan penjelasan dari Mas Reza.

“nah, Mas Aulia sudah kembali. Saya disini hanya menjelaskan konsep dasarnya saja. Selanjutnya akan dilanjutkan oleh Mas Aulia.”

Gile lu ndroo… heran gue. Yasudah,

“ohya, akan saya lanjutkan. Silakan buka aplikasi SPSS-nya terlebih dahulu. Dan download modulnya.”

Bukan berbasa-basi, ini naluri.

“nah silakan dipelajari terlebih dahulu.”

“apa yang harus ku lakukan.” Aku mulai aneh, bertanya pada diri sendiri.

“disana ada data mentah untuk penelitian, silakan dimasukkan kedalam SPSS sesuai ketentuan kasus-nya.”

Pembendaharaan kata-ku sudah mulai habis, tak ada pilihan kecuali mempelajarinya dalam waktu singkat.

Ku hampiri Mas Shobah, senior di lab, juga seorang instruktur. Orang-nya terlihat selalu sibuk, banyak yang dipirkan. Ku minta saja untuk di ajarin secara singkat tentang ANOVA dua jalur.

10 menit selesai dijelaskan dan akhirnya, heh heh (ketawa jahat), aku masih kurang paham. Gapapa lah, yang penting aku masuk dulu.

“Mas sudah.” Kata salah satu praktikan.

Dan stand up teacher show dimulai. Mohon maaf kalau penyampaian materi malam ini kurang maksimal.

“Mas kenapa kita memilih perintah itu untuk mendapatkan hasilnya? Tidak perintah yang lain?” sial, pertanyaan apa ini. Diamlah.

“pertanyaan yang cukup bagus, sebelum saya jawab, mungkin teman-teman disini ada yang tau kenapa?”

“ga tauuu maasss…!!” suara mereka senada kerasnya.

“jadi ga ada yang tau alasannya? Berarti kita sama…” trik mengelak yang penulis kuasai

“ngggggg….. seriuuss mass!”

“jadi gini loh teman-teman, kalau misalkan saya menggunakan perintah lain, boleh apa gak?”

“gak boleh…”

“gak boleh mas…”

“ya ga…”

Penulis mulai berhasil membawa suasana *tersenyum kecup*.

“hayo diperhatikan lagi, boleh apa ndak?”

“oh ya ya, boleh mas.”

Salah satu praktikan mulai tersadar dengan apa yang ku maksud.

“nah, benar tuh kata temannya. Boleh saja, tapi… salah.” Trik yang kedua untuk mengelak.

“hiiihh… sama saja.”

“sudah malam mas.” Aku tak mengerti apa maksud orang ini berkata begitu.

“yasudah sampai disini, ada pertanyaan dulu?”

“yang tadi aja belum di jawab.” Terdengar seorang praktikan berbisik pada teman-nya.

“sudah… sudah… pada paham kan?.”

”Menyampaikan sesuatu yang baru saja kita pelajari kepada praktikan yang seangkatan berhasil memicu adrinalin penulis malam ini.”

Praktikum malam ini sungguh meneganggkan. Penulis berhasil menundukkan para praktikan. Berakhir dengan happy ending

Selasa, 25 November 2014

wanita tua-ku

Dari sederet wanita yang ada di dunia ini, hanya ada seorang wanita yang suka mengatur dalam hidup-ku. Kurang lebih 21 tahun, penulis hidup dalam aturan-nya. Dari hal yang (wanita ini rasa) penting sampai yang gak penting sama sekali. Agak sedikit kasar kah penulis bilang seperti itu? Silakan nilai sendiri setelah kalian membaca aturan yang (dia anggap) paling benar itu.

Penulis lahir disebuah kampung atau desa salah satu kota di Kalimantan selatan. Sama seperti anak-anak remaja se-usia-ku waktu itu, 13 tahun, kebebasan adalah hal yang wajib dalam menjalani kerasnya kehidupan anak remaja. Berikut aturan-aturan tersebut :

Pasal 0

“Jangan nyewa main PS dirental.”

Aturan perdana yang penulis dapatkan ketika berumur 8 tahun. Main PS adalah kebahagian tersendiri yang mengisi masa kecil-ku. Secara diam-diam penulis main PS bersama teman-teman seumuran atau yang lebih tua kalau ada. Baku pukul siap sedia menjadi hadiah ketika ketahuan ibu-ku main PS. Pernah sekali, sungguh sakit pukulan ibu-ku ini. Mau nyoba? Segera hubungi tukang pijet langanan-mu.

Pasal 1

“ Jangan sampai main dirumah orang seharian penuh, dan jangan sampai makan dirumah orang.”

Sering kali penulis ditelpon disuruh pulang ketika lagi asik-asik-nya main dirumah teman. Perasaan malu sering muncul, kenapa hanya penulis yang diperlpenuliskan seperti itu?. Pernah penulis main sampai jam 2 siang, kala itu orangtua teman-ku sudah menyiapkan makan siang buat tamu, penulis dan beberapa teman-ku. Tiba-tiba ada telpon dari ibu-ku.

“Aulia, cepat pulang. Ini ibu sudah masakin makanan kesukaan-mu. Jangan makan dirumah orang.”

(sangat) terpaksa minta ijin ke teman-teman untuk pulang dengan alasan yang ku buat-buat untuk menghindari rasa malu.

Pasal 2

“Dilarang merokok dan pulang malam, apalagi nginep dirumah orang.”

Pernah penulis tak bisa masuk rumah gara-gara pulang jam 10 malam ke atas, terpaksa tidur diteras. Ada satu hal yang mungkin terdengar cukup menggelitik, sangat sering di setiap penulis pulang baik itu main dirumah teman maupun baru pulang dari sekolah selalu di cek atau di endus-endus mulut dan baju. Buat apa? Tuh kan kalian nanya. Tujuan-nya, apakah penulis barusan ngerokok atau tidak. Lihat teman-teman-ku ngerokok bebas ketika nongkrong, meski hanya secara diam-diam dari orangtua mereka atau secara terang-terangan kalau berani.

Pasal 3

“No pacaran, No sms-an di atas jam 10 malam, apalagi telponan.”

Hemat kata, Pembunuhan karakter remaja, inti dari pasal 3. Kata remaja harusnya dimengerti bagi kalangan orangtua. Orangtua seharusnya tak kaget kalau masa remaja itu identik dengan cinta monyet. Sebuah rasa yang tak bisa disimpan, pasti tumbuh pada setiap remaja. Cinta, suka, dan sayang. Anda bisa bayangkan apabila remaja tak merasakan itu semua? Abnormal, segera bawa dia ke psikolog. Rasa cinta bukanlah pelangggar tapi naluri.

Pernah penulis ditanyain banyak hal ketika ketahuan telponan pas dirumah. Pernah juga penulis mendapat ceramah ketika masih sms-an di atas jam 10 malam. Pernah penulis gugup keringat dingin ketahuan tetangga dekat rumah ketika lagi jalan-jalan bersama pacar.

sering ak telponan sembunyi-sembunyi di belakang rumah, sering penulis pura-pura tidur ketika ibu-ku masuk ke kamar untuk mengecek dua anak laki-laki-nya dan sering pula penulis jalan dengan pacar tanpa sepengatahuan ibu.

Pasal 4

“Tidak boleh jalan terlalu jauh, apalagi keluar kota.”

Satu per satu ajakan teman untuk jalan-jalan (terpaksa) penulis tolak. Bahaya kalau dalam sehari tidak ada kabar. Rasa takut terjadi hal-hal yang membahayakan penulis menjadi alasan aturan ini dibuat ibu-ku. Iya, rasa sayang seorang ibu sangat terasa disini. Namun, ahhh…. Aturan macam apa ini? Aturan ini hanya aktif pada penulis. Tengok teman-teman-ku mereka bebas, tak terkekang, sungguh indah kehidupan mereka.

Ha ha ha, semua aturan itu hari demi hari tak bisa berlaku lagi terhadap penulis. Apalagi ketika penulis memutuskan untuk menjadi anak kos di Kota Malang. Jauh dari orangtua mengakibatkan pasal-pasal di atas menjadi non-aktif. Ibu-ku sudah mulai terbuka hati untuk tidak mengekang penulis dalam beraktivitas. Meski terlihat agak terpaksa, penulis yakin akan terbiasa.

Pasal tambahan

“jangan pacaran sama orang jawa.”

Sekarang penulis tinggal dimana? Sekarang penulis kuliah dimana? Sekarang teman-teman penulis kebanyakan orang mana?. Jawa kan?. Sudah tau seperti itu, kenapa peraturan yang menyayat hati ini disahkan ibu-ku.

Jelas aku punya teman dekat orang jawa, tidak aneh kalau aku pacaran sama orang jawa. Beberapa wanita pernah dekat dengan-ku, nyaris semua aku jauhin gara-gara cerita ke ibu-ku dan tak direstuin.

Bukan mereka tak cantik, bukan mereka tak baik, bukan karena keadaan apapun, tapi aku merasa mereka tak bisa meluluhkan hati ibu-ku. Aku rasa mereka tak bisa melobi ibu-ku untuk membatalkan pasal tambahan.

penulis suka gadis jawa, sangat suka. Apalagi wajah-nya jawa banget atau jawa classic sebuatan dari-ku untuk gadis seperti itu. Penulis juga punya keyakinan, akan tiba waktu-nya ada seorang wanita yang bisa meluluhkan hati ibu-ku. Entah kapan itu, dia akan ‘memaksa’ ibu-ku menghapus peraturan-nya sendiri.

Saya punya rencana : Kalau bertemu wanita seperti ini, akan ku usahakan dengan serius untuk mendapatkannya. Akan ku buang kebiasaan buruk-ku, akan ku lakukan semua hal yang bisa membuat dia mau bersama-ku. Ku bawa kucuran keringat yang nanti menjadi bukti aku bersungguh-sungguh mengusahakan wanita ini menjadi pendamping penulis.

 

DSC_9784

Saya punya impian : seandainya penulis terlahir kembali di dunia ini, sungguh, oh Tuhan, jadikan-lah hamba anak dari ibu ini, dengan segala aturan pasal-nya tadi. Apapun itu, penulis hanya ingin ibu ini.

Senin, 24 November 2014

Arti sebuah lagu

Apa arti hidup tanpa music?

Jika pertanyaan itu diberikan kepada kalangan muda, heh (tersenyum kecup) jawabannya mudah sekali ditebak.

“ Jelas akan terasa hambar.”

“aku tak bisa hidup tanpa music.”

“setiap waktu aku membutuhkan music.”

Dan sejak kapan kamu mengenal music?

Medengar pertanyaan ini, teringat pertama kali penulis mengenal music. Tidak terlalu dramatis sih, kala itu ibu-ku memberikan hadiah karena aku berprestasi disekolah, sebuah VCD.

Dan hari itu tidak hanya ibu-ku saja yang lagi berbaik hati. Aku harus berterima kasih juga kepada si penjual. Si penjual memberikan sebuah CD gratis sebagai hadiah dari pembelian VCD. Betapa senangnya hati seorang anak kecil kala itu.

Sepulang dari pasar, penulis mencoba membaca cover depan CD tersebut. Tertulis Sheila on 7 lengkap dengan foto ke-5 personilnya. Dibawahnya tertera beberapa judul lagu hits dijaman itu seperti seberapa pantas, shepia, dan sehabat sejati.

Untuk ukuran anak usia 9 tahun, lagu itu cukup sulit untuk dimengerti. Namun, bukannya penulis bingung dengan lirik lagu itu, tapi….

“Aku suka.”

Sebuah kata yang menggambarkan isi hati-ku ketika pertama kali mendengar lagu 507. Lagu tersebut, sebut saja lagu pemberian penjual VCD, selalu aku ulangi dan terus aku ulangi.

Terima kasih penjual VCD karena sudah mengenalkan-ku pada lagu 507 yang sampai sekarang (usia 21 tahun) tetap menyukai-nya.

Beberapa tahun kemudian, seorang gadis mungil mengulangi kejadian beberapa tahun yang lalu. Pertemuan yang mungkin sudah direncakan Tuhan.

“Aku suka sebuah lagu dari sebuah band, Letto. Judul lagu itu Sandaran Hati. Kamu suka kah Au dengan lagu itu?”

Sebuah obrolan via sms yang tidak aku jawab kala itu.

“Amelia sangat sukaaaaa.” Sambungnya dengan sangat menggebu-gebu.

Aku juga tak mengerti dengan jalan pikiran anak se usia 12 tahun. Beberapa hari setelah kejadian di sms itu, aku membeli sebuah CD. Namun kali ini di cover depan tertulis Letto lengkap dengan ke-4 personilnya. Dibawahnya tertera beberapa judul lagu hits dijaman itu seperti ruang rindu, dan sandaran hati.

Dan sekali lagi …

“Aku suka.”

Sebuah lagu yang lirik-nya cukup ringan dengan music pop membuat anak berumur 12 tahun selalu mengulangi dengan sumringah. Judul lagu itu, Sandaran hati.

Saking sukanya, aku memasang NSP sandaran hati di nomer hape-ku. Ku beritahukan hal itu ke Amelia dengan hati yang berbunga-bunga. Dan setelah kejadian itu, Amelia lebih sering menelpon ke nomer-ku. Sekedar Miss Call lebih tepatnya, he he. Hanya untuk mendengar lagu itu, sebelumnya dia pernah bilang

“nanti kalau aku nelpon jangan diangkat ya Au, aku mau dengerin NSP kamu.”

Terima kasih gadis mungil, Amelia, sudah mengenalkan sebuah lagu. Kamu memang orang yang tepat buat mengenalkan lagu itu kepada-ku, tentu di waktu yang pas pula. Kalau orang lain, tak akan menjadi memori seperti sekarang ini.

Di tahun 2011, suatu hal terjadi karena keterpaksaan. Namun dari keterpaksaan inilah cerita itu berawal. Awal untuk mengulang kejadian beberapa tahun yang lalu.

Penulis mendapat hadiah tiket konser sebuah band dari 3 orang teman. Band yang kala itu belum aku kenal sama sekali namanya. Dan yang mengajak-ku kala itu bernama Paramita. Mereka sebenarnya ber-4, karena alasan tertentu kemudian dia digantikan, oleh aku. Mungkin kalau bukan dia yang ngajak, penulis akan mikir dua kali untuk ikut. Tanpa pikir panjang aku ikut saja dengan dia.

Masih tersimpan dalam memori penulis, dalam perjalanan hujan mengguyuri kami berdua. Kebetulan kedua temannya Paramita sudah duluan. Kami sampai dengan baju dan celana yang menyatu dengan air. Babahno, kami tetap melangkah. Sungguh keterpaksaan.

Dingin sudah merajalela kesekujur tubuh-ku.

“Vierra…..” kata itu terucap dari mulut MC di atas panggung.

Aku tak tahu band mana itu, 4 personil dari Vierra keluar. Penonton menyambutnya dengan berdiri atau ada yang berteriak histeris atau merekamnya kalau bawa kamera.

Terlalu lama, sebuah lagu yang dinyanyikan vocalis Vierra yang membuat tubuh ini hangat ketika mendengarnya. Sebenarnya aku tak tahu judul itu sebelum diberitahu teman-ku, Paramita.

Terima kasih Paramita, sudha mengenalkan sebuah lagu dengan genre baru ditelinga-ku. Dan tentu penulis lebih berterima kasih untuk malam yang indah ini. So nice J

Setahun kemudian, aku mendapat seorang teman yang boleh dikatakan tidak terlalu baru atau tidak terlalu lama. Penulis mengenalnya di tahun 2011, namun kejadian ini ketika akhir tahun 2012.

Seorang gadis yang ku temui kala itu terlihat galau. Galau karena apa itu? Maaf tak bisa penulis ceritakan. Sungguh menarik jalan dengan orang seperti dia. Selalu ada perdebatan ketika mengobrolkan hal yang ringan. Sangat mudah untuk akrab dengan-nya, dia cerita banyak hal yang sampai sekarang tak kumengeri, kenapa diceritakan kepada-ku hal privasi seperti itu?

Lagi dan lagi, seseorang memberikan penulis sebuah lagu. Kali ini terlihat dia sangat berniat agar penulis mendapat rasa dari lagu itu.

“Mas Au, aku ada lagu nih. Bagus untuk di dengar.” Kata-nya via bbm yang dilanjutkan dengan mengirim file lagunya.

Sampai sekarang dia memanggil-ku dengan embel-embel mas. Ku tengok saja file yang baru saja dia kirim . Fall for you – secondhand serenade, begitu yang tertera pada file tersebut. Aku hanya bisa tersenyum kecup sambal menunggu transfer selesai.

Setelah selesai, penulis play, sungguh gadis ini membuat-ku galau membisu. Aku hanya terdiam, tak berkomentar apa pun dengan lagu itu. Namun entah mengapa sering ku puter berulang-ulang kali.

Terima kasih Titia, meski lagu-nya tak begitu ku suka, namun hmmm… penulis selalu terbawa rasa ketika mendengarnya.

Terakhir ada beberapa photo untuk orang-orang yang baik hati di atas, kecuali si penjual VCD, hehe. Penulis susun secara acak, silakan tebak namanya.

Ms. X

Ms. X

Ms. X

Sabtu, 15 November 2014

20:14

Kadang aku suka, kadang aku gak suka.

Kadang aku sayang, kadang tidak, sering pula aku sangat sayang.

Kadang aku memperhatikan, terkadang aku acuh.

Kadang rasa-ku tumbuh, sering juga layu.

Kadang aku galau, kadang-kadang aku bahagia.

Kadang aku merindu, sering juga aku tak merasakannya.

Kadang aku menunggu kehadiran-mu, kadang aku suka sendiri.

Kadang aku terluka, sering tak sengaja melukai.

Kadang aku memahami, kadang-kadang aku mau dipahami.

Kadang aku mendekat, sering pula aku menjauh.

Kadang aku berbicara, kadang aku hanya ingin mendengar.

Kadang aku menyapa, sering aku menunggu sapaan.

Kadang aku berbeda, kadang sama.

Kadang aku sebagai pacar, kadang aku sebagai teman.

Kadang aku berharap, sering pula berputus asa.

Kadang aku berhenti, kadang-kadang ingin melangkah.

Kadang aku mau ungkapkan, selalu tak jadi.

Kadang aku mau merangkul, kadang aku mencium.

Kadang aku mau melupakan, kadang aku teringat sepintas.

Kadang aku lapar, kadang aku merasa kamu juga lapar.

Kadang aku mengiringi, namun sering aku berbelok.

Terkadang aku merasakan cinta, cinta yang sangat besar kepada-mu. Kadang pula aku tak merasakan apa-apa terhadap kamu. Terkadang aku sangat naif, sanagt ingin memiliki-mu, namun sering pula aku rasa tak butuh memiliki-mu. Terkadang aku mau menyatakan perasaan kepada-mu, sering pula aku merasakan itu semua tak perlu, baik bagiku maupun bagimu. Kadang rasa sayang-ku tumbuh drastis tiap waktu-nya, kadang pula tiba-tiba mati rasa kepada-mu. Terkadang aku kasmaran, selalu mau bersama-mu, selalu disisi-mu, selalu ingin mendengar kabar tentang-mu. Sering juga aku tak mau tahu atau hanya sekedar tahu.

For You, pukul 20:14 WIB

Senin, 03 November 2014

kamar ratapan

IMG00760-20111212-1518Tak mampu lagi aku memendam perasaan ini. Duhai nona-ku, sudah sepantasnya kamu tau isi hati ini. Dengar, jatuh cinta, itu pernah terjadi pada perasaan-ku terhadap seorang wanita. Termasuk juga kau, nona. Sungguh, aku mencintai-mu. Sejak kapan aku mencintaimu? Apa alasan aku mencintaimu? Lupakan hal itu. Disini aku mau mengungkapkan sesuatu untuk diri-mu.

Kamu, nggak, apa jadinya jika hari-harimu tanpa aku? Bagaimana hari-hari-mu ketika tak ada aku disisi-mu? Cerikan pada-ku ketika aku tak ada kabar dalam sehari bahkan lebih!?. Sepertinya kamu tetaplah nona yang mampu bahagia, mampu menjalani semuanya meski tanpa aku.

Andai nona memikirkan ini, tentu nona sadar, noan tak memerlukan aku lagi. Dengan atau tanpa aku, semua terlihat sama di mata-ku. Nona sangat mandiri, apapun bisa dilakukan nona sendiri, mubazir rasanya kalau aku ikut campur dalam hal apa pun dalam kehidupan nona. Aku hanya menjadi pengiring saja, tak lebih atau hanya pengganggu yang selalu ingin bersama-mu.

Sebuah perasaan tak dibutuhkan mulai muncul, aku mulai meratapi ini dalam kamar kecil-ku, bahkan terus menyebar di hati ini. Aku, sebagai seorang lelaki, pasti bahkan sangat ingin dibutuhkan oleh wanita, terutama wanita yang ku sukai. Namun itu tak terjadi nona. Kamu, selalu bisa melakukan semua hal, dimana aku bisa saja hadir membantu. Kalau aku tak mau membantu, sebenarnya bukan aku tak mau, aku memang tak bisa melakukannya. Mau sok bisa dihapadan kamu, maaf aku bukan tipe orang seperti itu.

Menjadi orang dibutuhkan itu yang ku mau, tapi tak kudapatkan pada nona. Apa ada aku yang lain, nona? Tidak, aku mulai paham nona, hal seperti itu tak perlu dipermasalahkan. Itu bukan nona.

Tahu kah kamu, betapa bahagianya kalau kita merasa dibutuhkan, sungguh membahagiakan hati. Bukan aku tak bahagia kalau disamping nona, tapi semisal ketika aku digantikan oleh aku yang lain, apa ada yang berubah? itu tak akan membuat perbedaan dalam hari-hari nona. Bahkan tanpa aku yang lain, sendiri, nona tetaplah nona yang begitu, noan yang mudah melakukan apapun. Apa pengaruh kehadiranku dalam perjalanan hidup nona?. Sial, sepertinya bukan jodoh-ku.

Aku akui, Jujur saja, akan lebih baik jika berada disamping wanita yang benar-benar membutuhkan-ku. Dimana, memayungi hari-hari-mu akan menjadi sebuah kebahagian dan kebanggaan oleh jiwa. Walau itu membuat aku tertatih. Sekarang, bagaimana aku bisa berada disamping wanita yang tak membutuhkanku. Meski aku masih bisa tersenyum atau tertawa , perasaan bukan untuk dipercandakan.

Akan Ku bingkai semua impian ini  dalam kamar kacik-ku, agar kamu tak melupakan-ku yang pernah mengiringi sebagian kisah hidup-mu.