Selamat datang!!

Selamat Datang digubuk Rahmeen yang sederhana ini, Selamat membaca ^_^

Pilih Kategori

Kamis, 26 Februari 2015

metamorph

Ada cerita seru nih ketika Dirgahayu-ku tanggal 24 februari. Layaknya metamorphosis, usia 22 berarti lanjut ke tahap selanjutnya. Secara teori, bukan evolusi terakhir yang terjadi dalam diri-ku. Baik secara sikap, etika, maupun cara pandang. Ini baru tahap ketiga dalam metamorphosis sempurna. Bisa dikatakan baru menyerupai kepompong.

Telur merupakan tahap pertama dalam metamorphosis, dan itu terjadi sejak kecil sampai kelas 3 SMP. Lugu, culun, dan polos mudah ditemui pada tahap ini.

Setelah itu ber-metamorphosis tahap kedua menjadi ulat. Ini ku-rasakan saat SMA sampai memasuki perkuliahan bahkan sampai hari ini (27 februari 2015). Kehidupan menjadi berbeda dan tak semulus ketika masih berwujud telur. Aku memiliki cara pandang yang berbeda, pikiran liar tak terkendali, dan mulai menyukai lawan jenis. Kebebasan adalah mutlak bagi ulat dan aku pun merasa rawan pada tahap ini.

Dan di usia 22, aku merasakan dampak peralihan dari ulat menjadi kepompong. Wujud kepompong memberikan waktu luang yang lumayan banyak. Aku baru tau tujuannya untuk refleksi diri dan ternyata banyak dampak yang tetap melekat dan susah di ubah.

Hal yang wajar dilakukan ulat menjadi tak wajar bahkan memalukan kalau masih dilakukan kepompong. Tak mudah menghilangkan kebiasaan buruk, menguranginya pun masih belum sanggup. Namun, selama ini citra negatif sedikit tersamarkan oleh hal positif meski tak menyeluruh. Itu membuat-ku sedikit mudah menjadi kehidupan saat berwujud ulat karena sebagian tidak mengenal keburukan-ku. Atau mereka sudah bisa menerima keburukan-ku bahkan sudah terbiasa dengan semua hal itu.

Di usia 22 harapan untuk memperbaiki diri datang. Begitu peralihan dari ulat ke kepompong sudah di depan mata, inilah kesempatan.

Memang, aku tak pernah mengharapkan apa pun dari orang lain. Sebenarnya tak perlu perayaan, hadiah, ataupun sejenisnya. Tapi ini sudah menjadi budaya. So, hargai mereka dan ucapkan Thanks!.

Dan ini cerita serunya, ketika aku baru menginjakkan kaki dengan wujud kepompong secara tidak langsung dikenalkan dengan sebuah lagu. Belum tau liriknya, aku sudah tertarik sejak melihat judulnya, terlalu lama sendiri.

Kunto Aji - Terlalu lama sendiri

Sudah terlalu lama sendiri

Sudah terlalu lama aku asyik sendiri

Lama tak ada yang menemani rasanya

Tak harus memikirkan pasangan, tak ada cemburu ataupun dicemburui. Serius, lirik ini membuat aku berpikiran “setahun lagi, jomblo-ku perlu diwisuda”.

Pagi ke malam hari tak pernah terlintas di hati

Bahkan di saat sendiri aku tak pernah merasa sepi

Ruang kosong di hati membuat hari-hari berjalan cepat. Sering aku bertanya pada diri sendiri ”koq udah senin lagi”. Sebenarnya merasa sepi pasti ada tapi mayoritas tak pernah merasa sepi. Mungkin karena teman-teman kos-ku, teman kuliah, dan kesibukan ditempat kerja.

Sampai akhirnya kusadari aku tak bisa terus begini

Aku harus berusaha tapi mulai darimana

“Langkah 1000 selalu diawali oleh langkap pertama”. Pribahasa itu sangat pas, ketika sudah menyadari semua harus ada perbaikan dan saat mau memulai aku tak tahu harus dari mana?

Teman-temanku berkata yang kau cari seperti apa

Ku hanya bisa tertawa nanti pasti ada waktunya

Walau jauh dilubuk hati aku tak ingin terus begini

Aku harus berusaha tapi mulai dari mana

Orang-orang yang care pasti menanyakan kamu mau cewek yang seperti apa? Tinggal pilih. Aku tak akan berkata simple atau belum nemu yang cocok. Hanya bisa memberikan senyum saja kepada kalian, Thanks!

Sabtu, 24 Januari 2015

tanda tanya

tandatanya Di tahun 2015 ini jarang sekali ada cerita tentang-mu. Seakan kita sedang terdiam. Apa aku sedang mencari kamu yang lain? Tentu iya. Tapi bukan mencari dalam artian sebenarnya. Melainkan membiarkan semuanya mengalir sampai ditempat perhentian.

Ku ingin nona tahu, sampai saat ini belum kutemukan seseorang yang dapat memberikan tawa dalam hari-hari-ku.

Ku ingin nona tahu, silakan berbangga karena aku pernah merasakan nyaman saat disamping-mu, meskipun itu dulu.

Ku ingin nona tahu, tak usah malu mengeluarkan sifat sombong-mu karena orang yang seperti-mu hanya ada satu di dunia ini.

ku ingin nona tahu, aku lebih suka orang yang menyombongkan diri daripada orang yang tidak mau untuk menyombongkan diri.

Ku ingin nona tahu, orang yang tak mau menyombongkan diri terlihat lebih sombong dimata-ku. Bayangkan saja untuk sombong saja nggak mau, oh betapa sombongnya.

Ku ingin nona tahu, aku terlalu bodoh, sampai sekarang sulit untuk memahami kenapa kamu tak memilih.

Ku ingin nona tahu, perasaan jangan diperlakukan seperti ini. Tak elok.

Ku ingin nona tahu, betapa pun jelek dandanan-mu, oh mengapa tetap terlihat cantik dimata-ku.

Ku ingin nona tahu, apa guna-nya memaksakan, fokuslah.

Ku ingin nona tahu, masing-masing dari kita punya cerita atau masalah masa lalu yang belum selesai.

Ku ingin nona tahu, pilih-lah maka kamu ada.

Ku ingin nona tahu, aku sedih ketika memutuskan mencari kamu yang lain.

Ku ingin nona tahu, dinding hati-mu itu sekeras tembok china.

Ku ingin nona tahu, aku tak berubah, lihatlah aku dari sisi yang belum pernah nona lihat.

Ku ingin nona tahu, ku berharap mendapat kesempatan untuk memiliki-mu.

Ku ingin nona tahu, harapan ini saja bisa membuat aku bahagia, bagaimana nanti kalau bisa menjadi kenyataan.

Ku ingin nona tahu, aku selalu mengamati semua hal tentang-mu.

Jumat, 23 Januari 2015

surga seharusnya rumah-ku

myheart Jam setengah empat sore aku sampai dirumah tercinta. Dalam langkah pertama-ku mneginjakkan kaki dirumah, nenek-ku sudah menyambut dengan genangan air mata. Dia menangis. Sebuah rasa ungkapan rasa kangen dengan cucu-nya tercinta ini.

Sebelum pulang aku menginap di kos teman-ku, dekat dengan bandara. Aku tiba dibandara jam setengah Sembilan malam, taksi kearah rumah-ku sudah kosong. Primitive banget. Namun teman-ku tak primitive. Mereka bersedia menjemput-ku dan menampung di kamar mereka. Selain itu, aku selalu dibelikan makanan oleh mereka.

Beda cerita kalau dirumah. Saat dirumah, ketika aku mau makan, tinggal duduk rapi saja. ayah, ibu dan nenek-ku bahu-membahu menyiapkan, mengantarkan, dan merapikan semuanya. Aku merasa seperti raja. Orangtua-ku paling bisa membuat aku nyaman dengan suasana rumah. Minum pun mereka tuangkan, padahal aku sudah terbiasa melakukan itu semua sendiri. Namun tak apalah, saat dirumah bermanja-manja seperti ini.

Aku pun menentukan menu untuk makan pagi, siang, dan malam. Aku sangat suka masakan ibu-ku. Aku Cuma punya dua penilaian terhadap masakan ibu, enak dan enak sekali.

Dirumah memang tempat yang pas untuk bermalas-malasan. Apapun terasa sulit untuk dilakukan, kecuali membaca dan menulis.

Disini, dikampung kelahiran-ku, tentu akan bertemu dan berkumpul kembali dengan teman sepermain sewaktu kecil. Meraka sudah mempunyai pekerjaan. Jadi agak sedikit berbeda bahasannya :). Aku hanya mengikuti dan mencoba memahami dunia mereka. Aku selalu iri, mereka sudah bisa mencari uang sendiri tanpa meminta uang lagi ke orangtua.

Soal kepulangan, tentu yang paling suka adalah adik-ku. Dia selalu meminta oleh-oleh. Tak ada alasan untuk tidak mengiyakannya. Aku suka adik-ku bahagia dan tersenyum. Teruslah begitu dik.

Aku juga berharap bisa bertemu teman-teman sekolah-ku. Tapi mereka juga sedang sibuk. Banyak juga yang sudah bekerja. Tentu mereka pantas mendapatkan itu, karena kalian sangat pintar sewaktu dikelas. Namun aku selalu mendapat rangking 1, ha ha ha.

Thank You for the Venom

Pagi-pagi aku sudah diajak membuat rekor oleh salah satu penyedia travel. Dalam waktu 5 menit, aku mandi, siap-siap, dan packing terus berangkat keluar sambil berlari.

Bukan tanpa alasan rekor ini berhasil mengkudeta rekor terdahulu. Masih ingat dibenak-ku, saat itu pukul 5.50 pagi ketika sedang asik-asiknya menonton bola copa del rey antara Barcelona VS Atletico Madrid, seseorang tanpa nama menelpon-ku lebih dari 5x.

aku sedikit bingung, lalu mengirim pesan

tadi mandi, ini travel kah?

Padahal disini masih leyeh-leyeh dikasur dengan wajah menghadap TV. Aku mencoba menebak-nebak itu dari travel karena kemarin memesannya.

Malam itu aku menelpon call center dari sebuah travel. Diakhir percakapan

Saya ulangi mas. Pemesanan travel dari Malang-Juanda atas nama bapak Aulia Rahman. Penjemputan jam 7 pagi tapi jam 6 sudah siap-siap. Ada yang bisa saya bantu lagi?

Call center yang bersuara perempuan itu memberitahu dengan sekali nafas tanpa jeda.

Itu lah alasanku menebak telpon itu dari travel.

Tiba-tiba pesan balasan masuk.

iya, saya sudah di depan. Cepat mas.

Hah! Are you kidding?

Spontan, aku meloncat dan lari kaki seribu untuk mandi, siap-siap, dan packing. Sebelumnya aku membalas dengan meminta tunggu 5 menit lagi.

Hush,!! Terciptalah rekor baru. Aku selesaikan dalam waktu 5 menit.

Dengan tali sepatu yang belum di ikat, aku berlari cepat ke arah travel. OMG!! Baju juga belum terkancing rapi.

Sial!! Padahal aku bangun jam 4 pagi. Ukuran yang sangat rajin bagi seseorang dengan janji jam 6 pagi. Itu gara-gara alarm yang super menyebalkan. Kesalahan-ku juga mengatur alarm jam 4 pagi. Buat apa coba? Penjemputannya kan jam 6 pagi. Ini karena ada jadwal pertandingan bola, he he.

Sambutan dari sopir travel pun tak bersahabat. Wajahnya sinis. Kadang aku mendapat beberapa kata yang tersirat memerahi keterlambatan tadi.

penumpang lain sudah siap ini mas, sekarang pesawat tidak bisa telat sedikitpun.”

Kebetulan aku duduk disebelahnya, alhasil selama perjalanan mendapat nasihat dari orang yang berlagak menghargai waktu.

“tadi hamper saja saya tinggalin mas. Waktu mas nge-sms saya sudah dijalan untuk menjemput penumpang lain.”

Ups, hamper saja.

Tapi memang kurang menguntungkan dijemput jam 7 (apalagi ini jam 6) karena malang-juanda bisa ditempuh dalam 2 jam. Jelas, akan membuat menunggu sekitar 2,5 jam dibandara.

Dalam perjalanan hanya aku yang menemani sopir ngobrol. Setelah ngobrol panjang lebar ternyata sopir berasal dari kandangan (kota yang berjarak 30 menit dari rumah-ku).

Pukul 9 pagi sampailah di juanda. Semua penumpang turun dan membayar biaya travel. Aku pergi ke information center melihat jadwal penerbangan.

Aku mengirim pesan ke teman-ku yang tinggal tidak jauh dari juanda. Dalam 15 menit dia sampai dijuanda lalu mengajak makan. Ikutlah aku karena masih lama juga penerbangannya.

Aku meminta jangan jauh-jauh, cari tempat makan yang terdekat saja. Akhirnya dia berhenti di Mc Donald yang berjarak 15 menit dari juanda.

Kami makan sambil cerita-cerita tentang masa lalu dan mulai bergosip. Aku kaget, jam sudah menunjukkan pukul 11 siang. Dengan tergesa-gesa kami keluar dan kembali ke juanda.

Selang 10 menit kami tiba di juanda. Aku pun berlari-lari menuju tempat antrian check in. tiba giliran saya

“maaf mas, untuk tujuan Banjarmasin check in sudah ditutup.”

Aku kaget, “terus giman mas?”.

“silakan ke bagian tiket citilink dipojok sana.” Petugas memberitahukan sambil menunjukkan arahnya.

Aku pun menuju tempat tesebut.

“mbak, tadi saya mau check in tapi nggak bisa.” Ucapku sambil menyerahkan tiket

“iya, batas check in 30 menit sebelum keberangkatan.”

Aku keluar dengan wajah lemas. Apalagi tadi mbak yang jaga bilang

“tiketnya sudah hangus. Mas bisa beli tiket baru. Untuk citilink hanya ada besok dengan jam yang sama.”

Di luarr aku menenangkan diri untuk mencoba berpikir guna menyusun apa yang harus dilakukan berikutnya.

Hush!! Dalam hitungan detik, sebuah rencana tersusun di otak-ku.

Langkah 1 – cari penerbangan terdekat dari maskapai penerbangan lain.

Aku bertemu beberapa calo tiket yang menawarkan tiket seharga 650rb dengan tujuan Banjarmasin/Balikpapan.

Wah lumayan, harapan-ku mulai tumbuh kembali. Aku pergi tanpa menghiraukan calo tadi. Mata-ku mencari-cari stand lion air. Aha, itu dia. Aku menanyakan penerbangan terdekat ke penjaga stand itu.

“ada jam 11.30, 15.20, dan 17.50 mas.”

“wah, jam 11.30 sudah penuh.” Katanya

“15.20 juga sold out.” Tambahnya jeda 2 menit

“sisa jam 17.50 seharga 550rb mas, mau?”

aku mengambil dompet dan mengeluarkan KTP beserta kartu debit untuk pembayaran.

“ini saya carikan yang paling murah, 420rb mas, gimana?.”

Aku pun hanya bisa merespon dengan mengangguk-anggukkan kepala.

Finally!! Aku membeli tiket baru lagi. Untungnya uang-ku masih cukup, ya untuk biaya setelah ini nggak usah dipikirkan dulu.

Langkah 2-mencari tempat menginap sementara.

Hal ini mulai terpikir dibenak-ku setelah mendapat penerbangan jam 6 sore. Perjalanan udara dari Surabaya-banjarmasin ditempuh selama 1 jam dan aku tiba pukul 7 malam disana. Ditambah lagi, penerbangan ini melewati time zone maka ada penambahan waktu +1 jam disini. So, jam 8 malam dimana taksi antar kabupaten sudah tidak ada.

Aku menghubungi teman-teman-ku yang kos di dekat bandara. Husss!! Aku sudah mendapatkan 3 orang teman di banjarbaru (15 menit dari bandara) dan 1 teman di Banjarmasin (45 menit dari bandara). Syukurlah mereka available untuk menjemput dibandara nanti.

Langkah 3- menelpon mama-ku.

Ya, jelas ini tidak boleh ketinggalan. Aku pun menceritakan semuanya dari 0 sampai hal sedang dialami sekarang. Intinya pulang tertunda, jangan ditunggu, mungkin besok baru nyampe rumah.

Untung mama-ku mengerti. Dia mendoakan yang terbaik dan tetap meminta untuk berhati-hati dengan barang bawaan.

Langkah 4- meminta pertanggungjawaban.

Persiapan pulang sudah beres, sekarang saatnya membicarakan mengenai menunggu. Kurang lebih 5 jam lagi baru check in, membosankan untuk ditunggu.

Aku berinisiatif memanggil kembali teman-ku. Saat ditelpon, orangnya belum jauh dari bandara. Dia kembali 30 menit kemudian.

Haruslah, dia harus bertanggungjawab menemani-ku sembari menunggu jam 6 sore. Tak banyak pinta-ku, ajak jalan-jalan untuk menyingkat waktu sekarang ini. Setelah berdebat cukup panjang, kami putuskan untuk kepelabuhan perak. Katanya disana ada museum angakatan laut.

Dalam 30 menit kami tiba di depan pintu masuk pelabuhan perak. What!! Mobil pengangkut barang sudah berjejer panjang. Teman-ku mencoba bercerita tentang kemacetan pelabuhan, maksudnya agar aku tak begitu kecewa.

Lalu dia menawarkan ke sebuah pantai. Wow!! Tapi pantai di Surabaya tak seindah pantai malang katanya. Pantai kenjeran namanya, butuh 60 menit untuk tiba di pantai ini.

Cuma 30 menit disini, memang pantai-nya kurang bersahabat. Kalau kamu pernah ke pantai yang terletak di Malang, aku sarankan jangan kesini. Sumpah.

Aku mengajak balik, trauma ketinggalan pesawat masih melekat dikepala. Jam 4 kami tiba di bandara. Aku pamitan dengan mengucapkan terima kasih. Aku tersenyum, senyam-senyum sepanjang jalan. Aku teringat ketika dalam perjalanan pulang di ajak makan oleh teman-ku. Aku minta makanan khas sini. Kami berhenti disebuah warung pinggir jalan, dia memesankan kupang dan sate kerang. Kalian tau, aku sangat enek (jijik) ngeliat kupang. Singkat cerita, si penjual geleng-geleng kepala ketika melihat kupang buatan-nya tak aku sentuh sedikitpun.

Jam 6 para penumpang antri masuk pesawat. Diluar sedang dilanda hujan. Cuacanya lumayan buruk. Namun pemandangan seperti orang yang sedang foto-foto di landasan atau samping pesawat selalu ada.

Ini pengalaman pertama ke Banjarmasin dengan penerbangan malam hari. Rasa lelah-ku terbayar oleh pemandangan indah kota metropolitan Surabaya di malam hari. Terang, kelap-kelip, luar biasa indahnya.

Tak hanya indah, malam hari juga mengerikan. Kilat beterbangan sangat jelas di kejauhan. Saya berharap agar dia tak berminat untuk mendekat. dari atas awan hitam pun terlihat sangat jelas bergerak. Aku bisa menebak, awan itu membawa air hujan dan mengguyuri tempat yang dilewatinya.

Jam setengah Sembilan malam aku tiba dan dijemput di banjarbaru. Sesampai di kos teman-ku, kami mengobrol dan bernyanyi ria lalu makan malam bareng dan terakhir tidur.

Setidaknya ini menjadi bencana yang elegan. Pernah ketinggalan pesawat. #A.R

Abah penah ketinggalan pesawat nak. Kamu tau nak, tiba-tiba pesawat abah diculik alien dan penerbangan dibatalkan. Alien tak mau mengembalikan pesawat. Abah pun mengambil tiket pesawat dan membuat pesawat-pesawatan. Abah pas TK paling jago bikin pesawat. Abah ajak alien buat tukeran pesawat. Sebuah pemikiran jenuis yang luput dari banyak orang nak. Setelah bertukar pesawat, alien pergi dengan pesawat bikinan abah. Semua orang dengan gembira naik pesawat. Dari kejauhan mereka berteriak terima kasih ke abah. Abah terharu, meneteskan air mata. Bukan karena ucapannya mereka tapi abah tak bisa naik pesawat karena tak punya tikek nak. #Abah

Jumat, 09 Januari 2015

5 tahun yang akan datang?

Pukul tujuh pagi waktu endonesia bagian barat penulis mulai berkhayal atau memikir suatu hal. Sudah menjadi kebiasaan diwaktu senggang meluangkan waktu untuk memikirkan hal yang kurang penting, begitu penting, dan capek mikir ini penting atau tidak. Mulai dari isu seputar politik, seputar asmara, info zodiak dan tes kepribadian. Dari sufi, athies, tokoh-tokoh, dan remaja alay. Sekarang informasi semakin liar tak terkendali, begitu juga dengan pikiran-ku. Penulis bahkan sering berbicara dengan pikiran sendiri. Sering juga lupa secara tiba-tiba yang barusan dipikirkan.

Namun, khayalan-ku pagi ini tentang 5 tahun yang akan datang. Sesuatu yang membangunkan rasa penasaran-ku. Tak salah mencoba menerka-nya.

1

Murid-ku ketika PPL

Hal terkecil yang membuat tiba-tiba mengingat mereka adalah kecerdasan mereka. Mereka memiliki pikiran yang tak terbatas meski itu bukan pada pelajaran matematika. Tak ada rasa sedih ketika melihat kenyataan kalau mereka tidak begitu suka dengan matematika. Tapi bapak (sapaan murid-ku) dapat melihat kecerdasan kalian ketika diberi kesempatan bersama kalian walau hanya beberapa minggu. Dengan kemampuan seadanya, tidak membuat kalian tertarik untuk menyontek saat ulangan. Karena kalian memang cerdas, kemampuan teman kalian di bawah kemampuanmu, gitu kan? :).

Sekarang (tahun 2015) kalian masih kelas 8 SMP namun diri-ku tak bisa menahan tentang gambaran 5 tahun yang akan datang. Tak perlu menjadi bertanya, bapak akan selalu mengingat kalian. Tinggal kalian sapa, otak bapak akan dengan cepat berputar dan akan mengenali kalian. Kalian pasti tampak berbeda, seperti apapun kalian nanti, itu membuat bapak penasaran.

2

Murid-ku ketika aplinet

Beberapa menyapa-ku, meski lupa nama-nya. Beberapa tak menyapa, meski ingat wajah-nya. Tapi itu tak membuat suatu kesimpulan kalau kalian sudah lupa atau melupakan. Sedikit malu mungkin, mengingat sebegitu akrabnya kita saat pelatihan. Mas (sapaan mereka) tidak terlalu veteran bagi kalian. Satu atau dua tahun lebih tua membuat kita seperti teman selama pelatihan.

Mas ingat kalian mengajak reuni-an ke sebuah tempat makan di depan kampus. Indah sekali melihat begitu akrab-nya kalian, masih rutin memberikan kabar ke teman-teman satu shift. Itu lah fase kalian, teman merupakan orang baru yang kalian temui pada suatu kegiatan. Mungkin itu yang membuat kalian cepat akrab dan selalu mengingatnya.

Berpakaian rapi, berlapis jas, berdasi dan aksisoris lain-nya, seperti itu kah kalian 5 tahun yang akan datang?

3

Murid-ku ketika praktikum

Kalian tentu tidak sadar, betapa ngeselin-nya kalian atau betapa ribet-nya kalian atau betapa lucu-nya kalian saat praktikum. Tak hanya saat praktikum, di luar praktikum pun kalian tetap seperti itu.

Mas, kalau yang seperiti ini bagaimana caranya.

Mas, bisa ketemu nanti, mau minta bantuin tentang ini.

Mas, terlalu cepat, pelan-pelan.

Mas, aku ketinggalan, ulangi.

Mas, cepetin. Kosan kami udah mau tutup.

Mas, check email-nya. Sudah masuk tugas-ku?

Mas, sudah benar punya-ku ini? Samperin kesini sebentar mas.

Tentu 5 tahun yang akan datang kalian sudah terbiasa mengatasi masalah sendiri kan? :)

4

Teman-teman di Malang

Teman kos-kos an, teman kuliah, teman organisasi, teman, instruktur aplinet, teman asisten, dan teman yang tak sengaja berteman. Kalian tentu akan menjadi sebuah cerita yang tak cukup diceritakan pada selembar kertas. Butuh beberapa tahun untuk menghabiskan cerita itu.

Teman, bersama-sama bergelut di organisasi untuk mencari jati diri,

Ingatlah, cari teman yang memiliki cara pandang yang sama,

Sejenak merenungkan masa depan,

Membaur sebagai sebuah sosialisasi

Dan ketika pengalaman menjadi hal yang mnyenangkan

Bagiku, kita sudah berteman dari dulu. Namun baru dipertemukan saat kulaih di Malang.

Bagiku, kalian akan ku panggil teman di 5 tahun akan datang.

5

Kamu

Terakhir, sejenak pikiran ini memikirkan kamu. Bentuk kamu 5 tahun dari sekarang. Kamu yang sanggup mengerti aku. Kamu membawa-ku menikmati masa muda. Kamu yang datang memperkenalkan cinta. Kamu yang sering membuat pupus. kamu indah.

Kamu dan aku akan bertemu di trotoar jalan, mungkin di sebuah mall, atau sebuah kafe. Tak segaja berada dalam sebuah angkot atau bus yang sama. Ini akan membuat kamu tersenyum bukan? Terang saja aku orang pertama yang akan memberikan senyum.

Kamu, kamu akan bergandengan tangan dengan seorang anak kecil yang lucu. Disebelahnya ada seorang lelaki dengan jam tangan ditangan kiri-nya atau kanan-nya. Begitu juga aku.

Beragam warna terbayang sekilas ketika perpapasan atau tidak sengaja bertemu. Tentu kita sangat ingin menyapa. Semakin jauh, dan terus semakin jauh. Kamu atau aku atau kamu dan aku akan memalingkan wajah.

Saat itulah kamu dan aku akan memahami sebuah kenyataan. :)

Jumat, 26 Desember 2014

Siapa nona-ku ditahun 2015?

Berakhir sudah cerita di tahun 2014. Apa yang penulis dapatkan selama satu tahun iIMG_14873607884186ni? Sangat banyak, banyak sekali. Terutama tentang cinta, iya, asem manis cinta. Cinta yang penulis rasakan, ah, cinta masa lalu yang penulis rasakan lebih tepatnya :). Semua kejadian ditahun 2014 tlah menjadi ingatan di otak, terekam dihati dan akan penulis kembalikan dipergantian tahun ini.

1 – salahkah aku jika bisa memiliki mu? –

Sebuah pertanyaan yang jawabannya sudah sangat jelas. Ya. Sangat, sangat salah jika aku bisa memiliki-mu. Cinta yang datang karena sebuah ketidaksengajaan atau ah.. dari sebuah keterpaksaan, mungkin. Aku tidak bisa menelaah mana yang lebih benar.

Jangan paksakan kita untuk tetap bersama di tahun 2015. Sudah berulang-ulang kali ku-coba ntuk dapatkan cinta-mu, tapi tak akan pernah bisa. kenapa? itu semua karena sikap-mu. Sudah cukup, cukup. Biarkan ini berakhir.

Aku kehilangan-mu. Sekarang atau nanti, ini hanya persoalan waktu.

2 -Kita baru akan merasakan jatuh cinta yang sesungguhnya ketika kehilangan orang yang dicintai.-

aku pernah merasakan kehilangan, dimasa lalu, jauh sebelum kamu hadir. Sakit? Nggak juga. Tapi terkadang ada yang terasa menyayat-nyayat hati.

Bukan memudar, cinta malah terus tumbuh ketika kehilangan orang yang kita cintai. Its true. Bagi orang yang tidak merasakannya, berarti kamu tidak sedang jatuh cinta. Kamu tidak merasakan hati berbunga-bunga ketika bersama-nya, bukan? Kamu tidak pernah melakukan hal gila hanya untuk dia. benar kan? jatuh cinta akan merubah segala-nya

Dan akan membuat kamu berkata “mencintaimu membuatku senang setiap hari.”

3. - Tapi, apakah kau tahu. Rasanya mencintai namun bertahan untuk tidak memiliki? Bertahan untuk tidak mengungkapkan? Percayalah, ini lebih buruk dari sekedar… patah hati.-

Kamu terlalu naif kalau bilang aku tidak serius akan perasaan ini. Sikap dingin kita selama ini tak membuat siapa pun bahagia, termasuk aku atau mungkin juga, kau.

Aku memang bukan tipe orang yang romantis, tentu kita punya selera yang tidak mempunyai titik temu. Percayalah. Sudah cukup memaksakan, seorang dalang pun akan merasa capek memaksakan dan terus memaksakan cerita kita ini. apalagi kita? yang sampai sekarang belum pantas disebut kita.

Akhirilah. Selesai, kan?

4 –pilih mana?-

Ada rasa tapi nggak ada status atau ada status tapi nggak ada rasa, kamu pilih mana? Kenapa lama jawabnya? Mau mikir-mikir dulu? Ha ha ha. Jalani aja semuanya semau-mu.

Kamu harus memilih.

5. -Ketika kamu memilih, berarti kamu ada.-

Jangan sekali-kali menggantungkan sesuatu, apalagi hati orang. Menunggu, menunggu, menunggu dia memberikan jawaban? Ha ha. Perasaan tidak bisa dibuat sebecanda itu. Kamu memang manusia yang paling sempurna untuk hal seperti ini, ya? :)

Tanpa berbuat sesuatu, keberadaan-mu tentu diragukan. Ada atau tidak, sih? Koq jarang keliatan? Masih hidup? Apa sudah pindah?

Pilihlah, pilihlah sesuka-mu. Karena aku yakin, kamu lebih tahu mana yang terbaik untuk-mu. Jangan mengada-ngada. Tentukan-lah biar tidak membuat orang lain menunggu. Bukan kah kamu juga tidak suka menunggu? Berarti benar, wanita lebih suka membiarkan orang lain menunggu, ya?

maaf, kamu tidak memilih-ku.

6 -Terus harus apa? Ketika tidak menjadi pilihan, bukankah kamu harus pergi.-

Apa yang bisa dilakukan ketika tidak menjadi pilihan. Tetap bertahan, tentu pilihan yang bodoh. Menunggu dengan keyakinan, dunia tidak sesempit itu kawan. Kau hanya akan membuat dia besar kepala. Secantik apa sih dia? sebaik apa sih? Kadar atau ukuran apa yang membuat kamu melakukan itu?

Kamu akan sadar ketika kamu mulai membuka hati untuk orang lain, yang dari dulu mungkin memikirkan-mu. Ya, tentu penyesalan menjadi akhir cerita itu.

Dipilih atau ditinggalkan, bukan-kah itu sebuah konsekuensi untuk seorang yang telah jatuh cinta?

Aku pergi.

7 –aku pergi, dan anggap saja perhatian aku kemarin adalah hadiah perkenalan kita…-

Aku bahagia, karena udah mampu membuat pacar orang khilaf mencintai-ku. Dan aku juga ikhlas, ketika aku meninggalkan seseoran, tanpa meminta apa pun atas yang telah aku lakukan selama ini. Itu hak mu, apa yang kamu dapatkan atau kamu diterima, simpan lah ^^ itu hadiah dari perkenalan kita.

Adil bukan?

Ini bukan tentang siapa yang kita kenal paling lama, yang datang pertama, atau yang paling perhatian. Tapi tentang siapa yang datang dan memberikan kepastian. Mari temukan itu dalam kehidupan kita nanti :)

8 – tentang kesalahan-ku-

kamu pasti merasa benar, dan aku salah, aku hanya bisa mengarang cerita saja. itu menurutmu :). No problem, tentu kau benar, dan aku tak mau mempermasalahkan hal itu.

Aku hanya bisa memulai, tapi tidak mempunyai keinginan untuk menyelesaikannya. Aku hanya bisa mengakhiri ini semua, tanpa mempunyai keberanian untuk menyelesaikannya, itu kesalahan-ku.  Ku sadari itu, tapi aku bahagia lepas dari jerat-mu.

---------------------------------------------------------------------------------------------

Itu lah cerita mengenai nona-ku ditahun 2014, dan di tahun 2015, siapa?

Minggu, 21 Desember 2014

-surat untuk mama-

Tidak sengaja hari ini penulis menemukan seracik kertas. Kertas yang cukup usang, sepertinya sudah lama ditinggalkan orang yang menulisnya.
“huu … huu…”
Penulis mengambil kertas itu lalu membersihkan kertas yang berselimut debu itu. Sedikit demi sedikit kertas itu sudah mulai terlihat jelas. “Iman sayang mama” sebuah tulisan yang tertera di kertas tersebut. Tulisan itu sudah mulai pudar, mungkin terkena air hujan atau mungkin juga terkikis hembusan angin.
“apa ya yang ada dibelakang kertas ini?.”
Penulis mulai penasaran, dan bukan bermaksud apa-apa, dengan terpaksa penulis membalik kertas tersebut. Lalu, sebuah tulisan tangan yang cukup panjang tertera tepat di balik kertas tersebut.
“sepertinya ini sebuah surat?”
penulis memvalidasi isi kertas pada diri sendiri.
“benar ini surat, tidak salah lagi.”
“tapi, apakah aku boleh membacanya?.”
“tidak.tidak. ini privasi orang. Aku tak pantas membacanya.”
Terjadi monolog dalam diri penulis, sebuah percakapan antara aku dengan aku lain-nya.
“lebih baik aku letakkan saja, dan tinggal kan tempat ini seperti tak pernah menumukan kertas itu.”
Dan penulis pun meninggalkan tempat itu. Dengan membawa kertas tadi. Dalam perjalanan penulis dengan lancang membaca isi kertas tersebut.

Semua manusia dilahirkan dari Rahim seorang ibu, begitu juga dengan-ku, Iman. Seorang anak pertama berjenis kelamin laki-laki dari dua bersaudara. Sekarang Iman sedang bergelut dalam dunia pendidikan untuk meraih gelar sarjana. Iman menuliskan sebuah surat untuk mama tercinta. surat yang lahir pada hari yang tersirat pada tanggal 22 Desember, ia hari ibu. Hari ini semua orang di dunia serentak memperingati hari ibu atau yang mau saja, yang tidak memperingati ya sudah.
Iman memiliki seorang ibu, namanya Jalipah. Tapi sering dipanggil mama-nya Iman dikampung. Dia lahir 2 April tahun 1966. Anak pertama dari satu bersaudara. Dan ditinggal ayah sejak umur 5 tahun menyebabkan hidup mama-nya Iman tidak seindah anak-anak seumuran-Nya. Sejak ditinggalkan ayah, mama-nya Iman sudah ikut bekerja membantu ibu untuk mencukupi kehidupan sehari-hari.
Begitu-lah hidup mama-ku, kuat seperti pegulat, pemimpin layak-nya laki-laki, dan penyayang yang menjadi identitas kalau dia berjenis kelamin perempuan.
Tapi, mama, di hari ibu yang sangat special ini, ada beberapa hal yang mau Iman sampaikan. Mama, anak-mu rindu. Mama, kapan bertengok ke Malang? Sudah-lah ma, tinggalkan saja pekerjaan. Kesinilah!
Mama, kamu sering menelpon
“Iman uang bulanan masih ada? Masih cukup?.”
Sudah-lah mama, sejak kapan manusia merasa cukup? Begitu juga Iman. Kalau ditanya seperti itu, jelas tidak cukup. Tinggal Iman saja yang me-manage-nya dengan semestinya.
Ketahuilah mama, tidak ada kata pasti dalam menentukan kecukupan, yang pasti hanya ketidakcukupan itu sendiri.
Mama, kamu juga sering menelpon
“Iman, liburan nanti pulang ya, mama tidak bisa ke Malang.”
Sudah-lah mama, sesekali tengok-lah anak-mu disini. Terakhir kali mama kesini 4 tahun yang lalu. Malang sudah beda, tidak seperti yang dulu. Nanti ku ajak mama keliling Malang dengan segala perubahan-nya.
Apalagi yang ini
“kalau kurang, nanti mama kirimin uang lagi.”
Terus orang-orang rumah mau makan apa mama? Kalau uang hasil jerih payah sebulan kalian di sana hanya untuk menghidupi satu orang disini. Belum tentu uang itu Iman gunakan untuk hal-hal yang baik juga kan? Cukupi-lah kebutuhan disana dulu, baru mama pikir-kan anak-mu di sini.
Dan ini
“harga-harga makanan disana sekarang naik ya disana, Iman? Uang bulanan perlu dinaikkin tidak?”
Mama… mama… setiap tahun atau setiap semester harga-harga makanan pasti naik. Jelas uang bulanan saja tidak akan cukup. Iman bisa koq me-manage-nya, kalau tetap masih kurang, Iman bisa koq mencari uang tambahan sendiri, mama tak perlu memikirkan ini. Nanti mama sakit kebanyakan pikiran.
Lalu
“Iman, nanti kalau pulang jangan banyak beli oleh-oleh kayak kemarin. Itu tak perlu.”
Arrggghhh… mama. Iman hanya mau menyenangkan mama. Iman sayang mama, Iman mau melihat mama tersenyum saat anak-mu tiba dirumah. Tapi, itu memang tak perlu, sepertinya mama tak perlu alasan untuk memberikan senyum kepada-ku.
Ini yang religius
“Iman, jangan lupa sholat dan membaca Al-Quran setiap malam. Punya Al-Quran kan disana?”
Iya mama, iya. Meski Iman kadang masih bolong sholatnya. Malu juga dengan diri sendiri tidak bisa full 5 waktu setiap hari-nya. Tapi akan Iman usaha-kan mama. Dan untuk membaca Al-Quran juga belum bisa istiqomah, kalau capek, Iman langsung tidur malam. Kalau gak capek, kemungkinan Iman juga jalan-jalan. Tapi sering koq ma Iman ngaji.
Ini yang menekan
“Iman, mama mau jujur sama kamu. Seharusnya dulu, mama tidak ijinkan kamu menjadi asisten di lab. Kamu akan kebanyakan kerjaan untuk orang lain dan melupakan kerjaan-mu sendiri, yang penting buat-mu sendiri.”
Mama tenang saja. Ini sebuah proses ma. Kalau Iman sering sibuk mengurusi urusan luar daripada urusan sendiri, itu memang pernah, sering malah ma. Iman pernah membaca, manusia terbaik adalah orang yang paling bermanfaat bagi sesame manusia. Kehadirannya menyenangkan bagi yang lain, dan ketidakhadirannya dirindukan. Semoga mama bisa mengerti, akan Iman usahakan semua urusan luar dan urusan diri sendiri berjalan berdamping. Meski Iman sadar itu sangat, sangatlah sulit. Namun, bismillah.
Ini yang memanjakan
“kalau uang bulanan kurang, tidak usah nyari kerjaan untuk menambahkannya. Tinggal bilang sama mama.”
Iya mama, Iman tau maksud mama. Mama sangat mengenal Iman, sangat hafal sifat Iman, dan Iman akui mama lebih tahu mana yang terbaik untuk Iman namun Iman lebih tahu dari mama apa yang dibutuhkan Iman saat ini.
Iman kerja part-time bukan semata-mata hanya karena uang, namun bukan berarti Iman tidak membutuhkan uang tersebut, sangat butuh. Satu hal yang menjadi alasan Iman, yang menjadi semangat Iman, Iman mau merasakan bagaimana capek-nya mencari uang. Iman mau merasakan tekanan yang sangat berat saat mencari uang. Dan tentu Iman mau merasakan kebahagiaan ketika mendapat uang.
Dan terus
“jangan jalan-jalan terus, nanti kewajiban dilupakan, terus lulus telat.”
Mama, tiap orang punya alasan sendiri kapan dia lulus atau lebih tepat-nya kapan dia merasa siap untuk lulus. Mama, ini bukan sekedar mencari lulus, tapi apa yang akan dilakukan setelah lulus? Kalau lulus cepat sangat-lah mudah, tapi sudah siap-kah lanjut ke fase selanjut-nya. Kalau belum punya mental kuat mending jangan lulus dulu. Iman akan tercabik-cabik dengan keras-nya kehidupan boneka ini.
Dan penutup
“Iman, kata teman-teman mama dikantor. Kalau jadi asisten lab itu pasti lulusnya telat. Segala urusan akan dipersulit dosen. Kamu jangan sampai lebih 4 tahun kuliah-nya.”
Aduuuh… ini kenapa juga teman-teman mama-ku memberikan berita, sebenarnya ada benarnya juga sih, tapi itu hanya dari segi sisi negatifnya saja. Coba ceritak-kan juga sis positif-nya, kalau kalian tidak tahu, sini Iman ceritakan kepada teman-teman mama itu.
Untuk skripsi, Iman tidak bisa janji kepada mama lulus 4 tahun. Iman juga tidak berani menargetkan lulus bulan apa. Namun, Iman hanya bisa menjanjikan sebuah semangat untuk menyusun dan menyelesaikan skripsi ini secepat-cepat-nya. Bukan untuk menyenangkan mama, bukan juga untuk membungkam mulut teman-teman-nya mama, atau alasan lain. Ini hanya untuk membuktikan kepada diri-ku sendiri, kalau Iman memang bisa.
Sekian surat ini Iman tulis untuk mama tercinta. Hari ini dalam sebuah kamar tertanggal 22 Desember, Iman menulis surat ini disela-sela Iman menggarap skripsi, revisi ke-3 bab 1 &kerangka BAB II.
-Iman sayang mama-

Seketika mata penulis mulai berkaca-kaca setelah membaca isi kertas yang ternyata surat itu.
“maaf, sudah dengan lancang membaca surat itu.” Penulis meminta maaf kepada Iman
Namun, sebuah kebetulan atau keanehan terjadi hari ini. Sebuah kesamaan tokoh, tempat atau waktu yang katanya hanya fiktif belaka seperti tidak berlaku untuk penulis dan Iman. Hari ini, penulis juga sedang menggarap skripsi seperti Iman. Hari ini, disini juga tanggal 22 Desember. Bahkan penulis juga sedang berada dalam sebuah kamar. Ah. Sudah-lah, mungkin ini hanya sebuah ketidaksengajaan ya Iman :)
 
Screenshot_2014-12-22-10-16-17