Selamat datang!!

Selamat Datang digubuk Rahmeen yang sederhana ini, Selamat membaca ^_^

Pilih Kategori

Senin, 27 Oktober 2014

Just a song

 

IMG20141026214335Ku tak percaya kau ada disini

Menemaniku di saat dia pergi

Sungguh bahagia kau ada disini

Menghapus semua sakit yang kurasa

 

 

 

 

IMG20141026221741Mungkinkah kau merasakan

Semua yanga ku pasrahkan

Kenanglah kasih…

 

 

 

 

 

IMG20141027015121Ku suka dirinya, mungkin aku sayang

Namun apakah mungkin, kau menjadi milikkku

Kau pernah menjadi, menjadi miliknya

Namun salahkah aku, bila ku pendam rasa ini.

Senin, 20 Oktober 2014

Menunggu di air keruh

IMG_20141019_162906Sudah dua hari belakangan ini teman-teman kos-ku mengajak aku untuk pergi memancing, namun aku urung mempunyai waktu luang untuk ikut memancing atau sekedar melihat-lihat indahnya sungai dengan beratap langit biru.

“Ayo, berangkat mincing!”

“ ajak Mas Au juga.”

“Ah.. gak usah. Paling dia gak bisa.”

Terdengar suara sayup dari luar kamar-ku. Aku termasuk orang yang susah di ajak keluar oleh teman-teman kos-ku. Terlalu asik dengan dunia-ku sendiri, mungkin.

Sore itu atau bisa dibilang setiap sore biasanya aku tidur. Sebenarnya itu bukan kehendak dari aku tapi tubuh ini meminta dan tak mau pisah kalau sudah ketemu Kasur atau guling kalau ada.

Aku bermaksud meluangkan waktu untuk teman-teman kos-ku atau sahabat-ku lebih tepatnya. Hari yang ku mau pun tiba, di hari minggu sore itu, setelah aku menunggu sesuatu yang masih hati ini pertanyakan apakah pantas ditunggu, pusing juga menggambararkannya.

“Ayok Mas Au, kita berangkat sekarang.”

Suara itu terdengar lagi dari luar kamar-ku tepat jam 15.01 wib.

“Ayok Au, ntar kita gak bisa lama-lama disana.”

Aungan suara datang lagi dari orang yang berbeda 10 menit kemudian.

“Iya, duluan ajaaaa…. Nanti aku nyusuuuuul.”

Teriakan-ku mungkin cukup untuk membangunkan satu kapmung untuk sahur saat bulan Ramadhan. Ada apa dan tak tahu kenapa, lidah ini terasa berat untuk mengiyakan ajakan teman-ku untuk beranjak dari kos.

Dari dalam kamar, aku mendengar sebuah suara motor beranjak dari parkiran kos lalu disusul oleh suara motor lainnya.

“keliatannya mereka sudah berangkat.” Aku mencoba untuk memvalidasi suara motor tadi ke diri-ku sendiri.

Aku mencoba tak menghiraukan apa kata hati ini. Namun aku tak tahu apa yang harus ku lakukan untuk saat ini. Bingung.

15 menit kemudian,

“ krikkrikkrik.”

Seperti pepatah, “menunggu di air keruh”.

“Jangan menunggu di air keruh Au.”

Pukul 15.40 wib

“aku mesti tetap di kos.”

Pukul 15.50 wib

“sabar, aku harus berada di kos.”

Pukul 16.00 wib ,

aku sudah berada disebuah tempat yang ramai, orang-orang terlihar sangat ceria dengan memegang suatu alat pancingan. Beragam-ragam jenisnya, ada yang hanya terbuat dari bamboo apa adanya atau pancingan yang sering kita liat di acara tv terang7 “ Sunting mania, Mantaaappp!!”.

Hanya beberapa langkah aku menemukan teman-teman-ku sedang asik dengan pancingan mereka.

“ bos, sorry telat.”

“ he Mas Au datang.” Teriak salah seorang teman-ku. Seperti ada sebuah yang wow ketika aku muncul dihadapan mereka.

“boleh aku mencobanya bos?”

Kelihatannya aku mulai tak sabar.

“nih lihat, kita sudah dapet 5 ekor ikan Au.”

“4 ekor ikan bawal, 1 ekor Mas.” Tambah teman sebelah-ku.

“aku yang dapet ikan mas itu, Au.” Teriak salah satu teman-ku. Terlihat dia sangat menggebu-gebu dengan teriakkannya meski kami berdekatan.

“aku yang pertama strike tadi Mas Au.”

“ikan bawal yang besar itu punya-ku Mas Au.”

Mereka mulai bersahutan dengan sombongnya.

Aku mulai diajarin teman-ku bagaimana cara melempar pancingan, ternyata susah juga. Susah karena sekarang aku mesti merubah kebiasaan-ku yang dulu. Kebiasaan menggunakan pancingan bambu yang sering aku gunakan ketika masih berusia belasan tahun.

Dengan seketika aku mulai terbiasa, memang sesuatu yang baru mengharuskan kita untuk belajar memahaminya.

Pukul 16.40 wib

Belum ada ikan yang nyangkut dipancinganku.

IMG_20141019_162932Pukul 16.50 wib

Aku merasakan tarikan yang sangat kuat dari pancingan-ku. Aku seperti terkaget karena ini pertama kalinya sejak tadi.

“tarik Au, pasti dapat.”

Teman-teman-ku memberitahuku kalau ikan sudah memakan umpan.

Aku mencoba menariknya, dan akhirnya …. Ccsssshhhhh…

Aku melihat kail yang kosong.

“sial!!! Aku kena PHP.”

Aku mulai mengumpat, hari ini memang membuat aku frustasi. Ahhhhhkkkk….“kesabaran-ku di uji weekend kali ini. Menunggu.”

Pukul 17.05 wib

Ada satu hal yang bisa aku lakukan ketika apa yang kita tunggu tak kunjung hadir. Berpindah. Berpindah ketempat lain yang lebih menjanjikan.

Pukul 17.10 wib

Aku seudah berada di sebuah kolam yang sepi , tepat disebelah kolam sebelumnya. Namun terlihat sepi, ini akan memberikan peluang yang lebih besar daripada kolam tadi, mungkin, kita coba saja.

“tak ada yang salah dengan mencoba kan?.”

Pukul 17.11 wib

Krikkrikkrik

Pukul 17.15 wib

Karyawan penjaga kolam ikan sudah meminta untuk segera menimbang hasil timbangan dan membayarnya dikasir. Sebuah pertanda kalau kolam ini segera tutup dan mengharuskan aku pulang tanpa mendapatkan satu ekor ikan pun.

Pukul 17.20 wib

Semua alat pancing sudah dirapikan, tinggal satu yang sedang aku pegang, iya ini yang terakhir yang sadang ditunggu tn-teman-ku.

Pukul 17.21 wib

Tekanan semakin besar, kolam sudah seharusnya tutup, iya, sepertinya aku terlalu memaksakan.

Pukul 17.22 wib

“berpindah ke tempat baru yang lebih menjanjikan tak selalu akan memberikan perbedaan seperti harapan kita. Ekspestasi harapan yang telalu tinggi malah akan membuat kita menengok ke belakang dan berpikiran lebih baik kembali ke tempat sebelumnya.” A.R

Pukul 17.23 wib

“ketika kita mengundang motivasi namun yang datang malah tekanan, apa yang mesti kita lakukan? Menunggu? Tak mungkin. Tak ada kesempatan lagi untuk menunggu.”

Ketika kesempatan untuk menunggu pun tidak ada,

maka….

IMG_20141019_165954Tunggu…

tunggu dulu…

aku merasakan sebuah tarikan…

iya ini tarikan dari seekor ikan…

senang bercampur gugup menguasai isi perasaan-ku. Namun adrenalin-ku hadir di waktu yang tepat. Dia memberikan-ku ketenangan, memberikan-ku ingatan tentang kegagalan sebelumnya, memberikan-ku cara bagaimana menghadapi tekanan ini.

Pukul 17.28 wib

Aku merasakan suatu perasaan puas menggebu-gebu, perasaan berhasil melewati berbagai tantangan, perasaan yang tak tergambar oleh apa pun.

“Aaaaaaaaaaaaaahhhhh… “ sebuah teriakkan yang menggambarkan perasaan-ku saat ini.

17.30 wib

IMG_20141019_165951STRIKEEE… COME BACK!!! STRIKTE di akhir-akhir injury time.

“menunggu boleh namun tak mutlak, gunakan adrenalin agar menemukan timing untuk berpindah.”

“seberapa besar usaha-mu, hadiahnya berkali-kali lipat dari itu.”

 

 

 

Sekian.

Senin, 22 September 2014

kosong



Malam ini di kamar kos yang berukuran 4 x 3 m aku merindukan seseorang. Tiba-tiba saja aku kangen sama kamu. Setengah Wanita yang mengisi penuh pikiranku. Aku mencoba menyampaikan perasaan ini kepadaMU namun respon dari kamu tak sesuai harapanku. Harapan yang terlalu tinggi seketika di tiup hening angin malam ini. Puusshhh… yang tersisa hanya angan-angan saja. Aku tak tau kemana membawa perasaan ini?
Awalnya tadi siang aku mendapat kabar burung, dari teman-ku sendiri. Dia bercerita panjang lebar tentang kamu, aku hanya bisa tersenyum kecup mendengar cerita dari-nya. Sebenarnya itu membuat mood-ku hilang seketika. Cerita yang membuat aku harus siap kehilanganMU. Iya, kehilanganMU untuk kesekian kalinya :). Carita apa itu? Biar kamu bertanya pada diriMU sendiri.
Kangen. Mengkinkah ini salam perpisahan dari kamu? Perasaan-ku sepertinya sangat peka. Mungkinkah dalam waktu dekat dia tidak akan lagi mendapatkan perasaan ini lagi? Jantung-ku hanya berdetup kencang saat menulis ini.
Sebuah perasaan yang tidak tersalur ke tempat semestina = galau. Malam yang sungguh membuat aku tak bisa berkonsentrasi. Kertas-kertas hasil tes siang tadi sudah siap untuk dikoreksi, namun apa boleh buat, kutinggalkan semua itu.
Mending aku jalan-jalan, melepas atau lebih tepatnya membuang perasaan kengen ini. Langkahku terhenti kesebuah tempat, di dalamnya terdapat novel-novel yang tersusun rapi. Kalau aku beli satu sepertinya tidak akan mengganngu susunan novel itu.
Pulang-pulang aku membawa nota pembayaran, tak sadar aku benar-benar sudah membeli sebuah novel. Buat apa? Aku tidak sedang membutuhkannya.
Bukan aku yang membeli novel ini. Mungkinkah rasa kangen-ku yang sudah membawa-ku sejauh ini. Iya? Iyakah? Kalau iya, novel ini memang bukan untuk aku, untuk kamu mungkin? Pikirku.
Bukan, sepertinya bukan untukMU.
Novel ini tidak harus aku bawa pulang. Seketika perasaan ini menghentikan langkah-ku kesebuah rumah atau tempat lebih tepatnya. Iya, spontan aku singgah di tempat itu. Aku berniat memberikan novel ini kepada-Nya, orang di tempat itu.
Sepulang dari tempat itu, bukannya aku yang memberikan novel, malah aku membawa sesuatu dari tempat itu.
Orang di tempat tadi mungkin mengisyaratkan-ku agar memberikan novel ini kepada orang yang semestinya. seseorang yang telah membawa perasaan ini untuk membelinya. Ah, entahlah!
Mengkin ada benarnya juga, akan ku kasihkan saja novel ini kepada kamu. Gak hanya itu, titipan dari orang yang tadi aku singgahi juga akan aku kasihkan sebagai pemanis novel ini.
Alasan? Alasan apa yang membuat aku terbawa hingga seperti ini. Mungkin untuk salam perpisahan untuk kamu. Mungkin setelah ini aku akan menemui kamu yang bukan kamu semestinya.
Hmm… ini novel semestinya membuat pembaca tersenyum ketika larut dalam ceritanya. Lupakan alasan tadi. Biar kamu senang, anggap saja ini hadiah buat ulang tahun kamu. Selamat ulang tahun Nona-Ku. “I always remember You.”

Minggu, 27 Juli 2014

Dia adalah Nona-ku tahun 2014

 

Ulang Tahun

IlovUHari ini tanggal 27 juli 2014 seperti biasa suasana Kota barabai selalu panas. Tak ada yang special, namun muncul satu kecemasan. Nona, benarkan kamu ulang tahun?

Disini cerita itu berawal. Aku yakin hari yang tertanggal 27 juli adalah hari ulang tahun Paramita Wulandari. Apa aku terlalu yakin? kamu sendiri yang bilang itu tanggal lahirmu. Banyak rencana yang sudah aku niatkan untuk ulang tahun Nona. Kamu harus tahu itu, harus, iya, wajib!

1

Nona, ini merupakan rencana awalku, pertama terlintas dalam dalam pikiran ini. Aku sangat yakin dapat membuat Nona terkesan atau respon oo paling tidak. Aku berencana memberi kejutan ketika pukul 23.59,99 tepat, iya, nona, aku juga mau menjadi orang yang pertama memberikan ucapan yang special itu ke kamu. namun disini Wita, akan terasa lucu rasanya ketika nona bilang

“ Disini masih jam sebelas malem bang.”

Kamu itu, orangnya tidak bisa kalau ada kekeliruan walau hanya sebatas biji sawi.

Selain dipisahkan oleh lautan, kita juga berbeda dalam hal waktu. Ini membuat kita kaku selama liburan. Benarkan Nona?

Mungkin aku harus merubah rencanaku, menggeser 1 jam lebih tepatnya. Namun aku urungkan niatku.

2

Bukan tanpa alasan aku membatalkan rencana awalku. Aku punya rencana kedua, yang lebih tertata dengan kemungkinan keliru hapir tidak ada. Aku akan menebak, nona sudah tidak asing lagi dengan ucapan seperti ini.

Membuat suatu ucapan selamat ulang tahun dengan beberapa foto yang digabungkan menjadi satu. Klise? Iya, memuakkan.

Foto yang mana aku memegang kertas putih kosong untuk kemudian aku edit menggunakan photo editor di hapeku atau corel draw, bisa juga photoshop kalau bisa.

Aku menambahkan pemanis rasa, dengan melibatkan anggota keluarga dalam sesi pemotretan. Aku pun mulai menebak-nebak nona, meski aku tau kamu orang yang terlalu sulit untuk ditebak atau sulit untuk dimengerti kata hariku.

“ih abang, alay deh. Sudah terlalu mainstream, kreatif dikit lah bang. Tapi makasih ya.”

Aku pikir ini terasa berbeda, tapi ucapanmu itu membuat aku mengurungkan niat ini.

3

Ulang tahun identic dengan kado, kado yang berisi hadiah. Iya, aku juga berniat ngasih nona kado. Ini rencana ke-3 buat Nona. Meski jauh aku tak masalah, sekarang ada jasa pengiriman barang kan nona? Aku juga punya alamat nona yang lengkap, tentu nona sudah menebak-nebak dari mana aku tahu. Namun aku mesti ngasih kado apa? Kalau pertanyaan ini sudah melekat dipikiran maka aku gak akan bisa memutuskan mesti beli kado apa.

Aku mencoba mengingat-ingat hari bersama nona, bukan untuk bergalau-galauan, bukan juga sedang dilanda rindu, melainkan untuk memutuskan membeli kado apa?

Apa yang sering nona inginkan ketika bersama aku? Akhirnya aku bisa menebak apa yang nona inginkan. Jelas, tebakan ini gak hanya aku pikirkan sekali, sudah ku renungkan beberapa kali nona, tenang saja.

Yang nona inginkan ialah ketemu aku, mau bersama aku selama mungkin. Iya kan? he he he. Maaf non, kalau yang ini aku nggak bisa membungkusnya lalu mengirimnya ke alamatmu. Iya pasti mahal ngirimnya tapi bukannya aku pelit, bukan masalah uang non, ini soal waktu, belum saatnya kita untuk bertemu.

4

Saat lagi nyantai dengan sengaja aku main Path, sekedar melihat-lihat kesibukan orang. Dengan sengaja lagi aku melihat ucapan ulang tahun yang datang dari bebagai penjuru dunia kepada seorang wanita. Iya, itu kamu Nona, Paramita Wulandari.

Muncul perasaan tidak enak, entah itu dari mana datangnya, seingatku tak pernah mengundang perasaan itu.

“Koq bisa aku?” Seolah-olah aku bertanya pada diri sendiri.

Aku, sebut saja calon pacarmu, tuh kan protes lagi. Sudah kamu jangan protes, terima saja. Aku tidak ada mengucapkan sepatah kata pun untuk orang yang sudah aku cintai sejak aku menulis ini.

“Non, maaf ya, kamu harus maafin aku.” Kata ini terucap dari dalam lubuk hatiku.

Pikiranku dipenuhi rasa bersalah yang agak mendalam. Pokoknya aku mesti memberi ucapan ke kamu, atau harus ngasih surprise sampai kamu terkejut kalau bisa. Ketika malam hari aku putuskan untuk menjadi orang yang paling akhir mengucapkan dua kata itu. Ini rencanaku yang akan menjadi kejutan mala mini. Klise? Iya memang, tapi setidaknya kamu tidak berpikiran yang aneh-aneh terhadap aku disini.

“ Selamat ulang tahun, Non. Aku bisa nebak, kalau ini bakal menjadi ucapan terakhir yang datang ke kamu.” Tulisku di WhatsAp

“ih, abang. Lupa kah sama ulang tahun Nona!?” isi pesan kamu terkesan emosi.

“ bukan lupa, tapi bingung.”

“kenapaaah?”

Itu kalimat Tanya yang sering banget kamu gunakan, aku sudah bosan mungkin membacanya. Namun karena itu dari kamu, aku gak tau tetap saja membalasnya.

“kalau kamu nanya, itu namanya bikin aku tambah bingung Non!”

“ he he he”

-berakhir-

Endingny paling gini, sangat membosankan, tidak ada pembahasan berikutnya. Oleh karenanya ku urungkan lagi niat ini.

5

Seiring rencanaku yang selalu terhalang oleh suatu alasan yang jelas, aku jadi paham dan bisa belajar bagaimana semestinya dalam hal merencakan sesuatu. pepatah mengatakan harus ada rencana lain sebelum kamu mencoba menjalankan suatu rencana . kamu tau ini pepatah yang baru saja aku buat sendiri Nona.

Aku punya rencana penutup untuk ulang tahun kamu, special dari aku. Diam. Iya, aku sudah semestinya hanya diam di ulang tahun mu yang ke-21 ini. Aku bisa menebak, sudah banyak teman-teman Nona yang ngasih ucapan.

“ Selamat ulang tahun tata, semoga bla bla … “

“Selamat ulang tahun katul, mudah-mudahan bla bla … “

“Selamat ulang tahun sahabat tercinta, I miss you bla bla …”

Aku juga bisa menebak, sudah banyak orang special yang ngasih ucapan ke kamu atau ngasih kado kalau ada. Aku bisa menebak, kamu sudah merasa sangat bahagia hari ini, tepat di ulang tahun mu yang ke-21. Aku juga bisa menebak, sudah ada seseorang yang bisa membuat kamu tersenyum hari ini atau buat kamu ketawa kalau mau.

Diamku ini kado buat kau Non, terima lah. Paling nggak kamu tersenyum meski hanya untuk menjaga perasaanku yang sudah ngasih kado ini ke kamu. Simpan saja semua hal yang nggak mau aku lihat dan yang nggak mau aku dengar saat kamu mendapat kado ini.

Tak ada do’a dariku di hari ulang tahunmu ini, namun percaya lah Nona, nanti kamu akan menjadi orang yang selalu ku sebut dalam setiap do’a ku. Tak ada surprise dari aku, meski aku bisa menebak kamu terkejut kenapa aku hanya memberi kado seperti ini.

Kamu pasti berfikir, dari tadi aku hanya mencari-cari alasan agar kamu gak marah, agar kamu bisa menerima, agar kamu tidak merubah sikap, agar kamu tetap menyayangiku? Agar kamu tetap memberikan senyuman saat bersamaku.

Iya, itu memang benar, aku gak mau kehilangan itu semua, tapi yang paling penting bagiku adalah kebahagiaan Nona.

Aku gak akan melibatkan rasa di hari ulang tahun mu. Tidak juga membawa perasaan-perasaan lain yang akan membuat kita kaku atau canggung. Aku hanya akan diam, bukan apa-apa, aku pengen gak membahas mengenai hari kebahagiaanmu ini.

Aku hanya berterima kasih kepada orang tua mu yang sudah melahirkan Paramita Wulandari di dunia ini. Aku juga berterima kasih kepada diri sendiri yang sudah kuliah di Malang. Sampaikan juga terima kasih kepada teman-temanmu, sahabatmu, orang-orang spesialmu, orang-orang terdekatmu yang begitu baik di hari ini. Saat menulis ini di ruang tamu rumahku, sekali lagi aku hanya bisa diam disini.

Sebagai penutup, kalian Jangan ketawa, iya, mungkin yang membaca cerita ini akan ketawa. Tapi aku yakin kalau kalian berada di posisi ku, kalian akan paham kenapa aku bertingkah seperti ini.

Rabu, 31 Juli 2013

My Self = Aulia Ar Rahmeen, Episode 2

Image0090(cont…..) Waktu itu, mungkin karena penulis keturunan Guru olahraga maka bakat dari Ayah dan Ibu turun ke anaknya seperti penulis jadi gak usah kaget kalau penulis bisa berbagai olahraga semisal sepakbola, voli, basket, futsal dan lain-lain. Tapi penulis tak perlu berbangga dengan semua itu karena itu Cuma bakat turunan yang penulis dapat secara alami tanpa latihan Laughing out loud. Sedikit bercerita Waktu itu gajih seorang Guru jauh dari kata cukup bahkan kurang, asal kalian tahu rumah ku itu belum pakai listrik atau bisa disebut Cuma pakai lampu pijar. *(mungkin listrik masih belum masuk ke desa ku) tapi banyak koq rumah-rumah yang sudah pakai listrik di desa ku tapi mungkin bagi orang-orang yang hidupnya di atas kata “Sederhana” terus gimana kalau mau nonton tivi, oh tenang sodara-sodara, Ayah ku *(orang yang aku anggap hebat)

My Self = Aulia Ar Rahmeen, Episode 1

290410-1012 (2)Perkenalkan nama saya Aulia Rahman, bisa dipanggil Rahman, bisa Aulia *(kaya cewek ajaya) Aau *(kaya manggil kucing -_-) tapi aku sukanya dipanggil Rahmeen, nanti aku jelasin kenapa nama panggilanku banyak sekaliSmile. Aku lahir pada malam kamis tanggal 24 Februari 1993. Ingat ya aku sebenarnnya lahir tanggal 24 Februari 1993 tapi di akta kelahiranku tertera tanggal 25 februari 1993. Aku tau ini semua ketika aku SMP *(tepatnya MTs, aku anak Madrasah gitu. Hehe) Saat itu pacar pertama ku (namanya Amelia Ahman) secara mengejutkan menanyakan kepadaku aku lahir hari apa?

Selasa, 30 Juli 2013

[ChirpLoveStory] Cinta pertama, THE END!

705098_10151249600089448_743681852_o(cont…….) Waktu itu, penulis tidak ada merasa ada berbeda pada diri amie tapi keadaan sebenarnya tidak seperti itu (ternyata amie sedang dekat dengan namanya benny) tapi saya tak menyadari itu karena sejak dulu saya selalu mengijinkan amie berteman dengan benny tapi rasa kepercayaanku terlalu berlebihan dan melupakan suatu kemungkinan yang masih bisa terjadi meski peluangnya hanya 0,000001 %.Who me? Dan itulah yang membuat saya lengah sehingga membuka sebuah celah kecil kepada benny untuk menusuk dari belakang, sungguh sesuatu yang memalukan jika dilakukan seorang cowok tapi itulah benny seorang cowok BANCI yang tidak berani bertarung secara gentel. Akhirnya suatu hari, amie minta putus tanpa sebab apapun dan membuat saya bingung karena penulis merasa semua baik-baik saja tapi ternyata perasaan itu salah.